Reverse

cover-reverse

Author             : billachan

Genre              : Romance, sad

Lenght             : Oneshoot

Casts               : Byun Baekhyun, Kim Seokjin, Ahn Sooyeon (OC)

Rate                 : PG 15

Happy reading ya^^

Attention: FF ini menggunakan Sooyeon POV sampai di akhir cerita

.

.

.

.

“Jin adalah lelaki yang begitu sempurna. Namun, hanya Baekhyun tempat yang tepat untuk pulang”

.

.

.

.

SOOYEON POV

Tok.. tok.. tok..

Ugh, menyebalkan sekali orang yang mengetuk pintu kamarku. Bunyinya semakin lama semakin keras, membuatku menutupi seluruh tubuhku dengan selimut merah jambu bermotif bunga favoritku. Meskipun aku tidak tahu siapa yang ada di luar sana, tetap saja gelar menyebalkan tersemat dengan otomatis karena dia –si pengetuk yang tidak kutahu siapa itu— secara tidak langsung sudah membolongi pintuku dengan ketukan menyebalkan dan secara langsung sudah membuatku tidak bisa menikmati tidur tenangku di Minggu pagi! Oh, demi tuhan. Seharusnya aku bisa berperilaku seperti wanita surgawi hari ini tapi ketukan pintu yang masih belum berhenti juga menghancurkan segalanya. Aku heran, kenapa tangan si pengetuk itu tidak patah setelah mengetuk kurang lebih selama lima menit tanpa henti?

“Ya, sebentar,” kataku ketus kemudian menyibak selimut yang sejak tadi melilitku dengan kasar. Hum, bagaimana lagi. Aku harus mengalah agar si pengetuk pintu menghentikan perilakunya. Tapi seperti orang kalap, si pengetuk pintu malah mengetuk pintuku semakin keras. Keparat! Pintuku bisa bolong jika diketuk sedemikian keras.

Frustasi, kugenggam gagang pintu erat-erat dan kubuka dengan gerakan yang lebih dari biasanya. “Bisakah kau berhenti mengetuk pintu? Dasar—“ gulp. Kata-kataku tertelan kembali setelah melihat penampilan seseorang di depanku.

Sesosok lelaki dengan celana jeans keluaran terbaru dan kaus oblong putih yang dibalut kemeja kotak-kotak merah berdiri di depanku, dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam kantung celana. Membuatnya terlihat simpel namun berkesan.

“Selamat siang, nona,” sapa lelaki ini. Oh, jika dia tidak menyapaku aku pasti sudah terlarut dalam pesonanya seperti wanita-wanita gila yang meneriaki namanya sambil membawa banner di koridor kampus. Aku harus berterimakasih padamu…

“Jin,” gumaman tanpa sadar keluar dari mulutku. Kurapikan rambut dan menggosok mata. Ini sungguhan, bukan mimpi yang terbawa dari alam bawah sadarku.

Jin tersenyum begitu hangat. Oh, apakah seperti ini lelaki surgawi? “Apa aku begitu mempesona, hah? Kerbau?”

“Kerbau?!,” aku berteriak hampir memekik. Bagaimana bisa kerbau yang hitam, gendut, dan bertanduk disamakan denganku? Lelaki surgawi macam apa yang… ah, lupakan. Kim Seokjin bukan lelaki surgawi. Dia hanya tetangga flatku yang urakan dan jorok.

“Ya, kerbau. Karena kau baru bangun sedangkan aku sudah siap dan rapi. Eum.. apa aku perlu memanggilmu profesor tidur?”

“Astaga, Jin!” kulayangkan tangan kananku ke pundaknya, namun dengan gesit Jin berhasil menghindariku.

“Oops, Sooyeon, simpan energimu. Kita akan berangkat sebentar lagi,” kata Jin sambil menurunkan lenganku lembut. Tangannya terasa keras tapi hangat, tangan sempurna yang diimpikan para lelaki.

Aku tersentak, muram seketika menjalari wajahku ketika mendengar kata ‘tempat itu’. Aku benar-benar tidak suka, dan sepertinya Jin sadar ada yang berbeda dari mimik wajahku karena tangannya langsung bertengger di kedua sisi pundakku, meremasnya pelan.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya. Dari suaranya saja aku tahu Jin pasti sedang khawatir.

Aku menunduk, memejamkan mata. Rasanya sakit. Seharusnya aku tahu Jin selalu mengunjungiku karena ingin menemaniku ke tempat terkutuk itu, tidak ada maksud lain. Seharusnya aku tahu diri. Ya, Ahn Sooyeon.

Dua kali anggukan kuberikan padanya. “Ya, Jin. Kau benar. Aku akan segera mandi dan ganti baju. Setelah ini kita pergi,” kuturunkan kedua lengannya dari pundakku, memberikan senyum kecil untuk menghibur wajah pucatnya, kemudian kututup pintu kamarku pelan-pelan, seperti biasanya.

 

***

 

Kim Namjoon— papan nama yang berkilauan di depan pintu putih itu membuatku gugup. Kulirik sejenak Jin yang merupakan adik dari seorang Kim Namjoon. Dia terlihat begitu tenang dengan headset yang menyumpal kedua telinganya, dan kedua mata tertutup sambil kaki kirinya sesekali menimbulkan gema tak kasat mata di ruangan bercat putih yang sepi ini.

Kuurungkan niatku untuk berbicara padanya, dan dalam hati, hanya kata sempurna yang bisa kudecakkan berkali-kali. Aku tidak bisa berbohong. Orang yang baru pertama kali melihat Jin saja akan mengucap kata sempurna di depan wajahnya, apalagi aku yang hampir setiap dua minggu bertemu dengannya?

Setelah berkali-kali kutatapi wajahnya, aku memantapkan niatku untuk membuka pintu. Sosok seorang lelaki berambut gradasi abu-abu ke putih yang tubuhnya dibalut dengan jas putih langsung berbalik dan menyapaku.

“Kau datang, Sooyeon. Bagaimana keadaanmu?” suara bass itu langsung mengalun sesaat setelah ia membuka mulut.

“Baik, dokter,” balasku sopan.

Namjoon, lelaki itu menyuruhku duduk dan mengambil sebelah tanganku, menekan-nekannya lembut namun tegas. Ia menanyakan bagaimana keadaanku, apa saja yang kumakan, apa saja yang kulakukan belakangan ini, dan banyak hal lainnya.

Hari itu aku terlalu banyak menghabiskan waktu bersama dokter Namjoon dan yang kuingat, aku menemukan diriku membuka pintu ruangan dengan tergesa sampai menimbulkan bunyi yang tidak menyenangkan. Jika saja Jin tidak bertanya, “Hei, ada apa?” aku pasti sudah melupakannya.

Namun meskipun begitu aku tetap berlari, menjauhinya. Menjauhi dokter Namjoon, menjauhi semua orang yang menatapku aneh, menjauhi rumah sakit, sampai kakiku terasa lemas tapi tubuhku memerintahkan untuk terus melangkah.

Matahari mulai condong ke barat, dan rintikan hujan seakan meramaikan suasana tapi aku tetap berlari. Kuterobos rintikan hujan yang semakin lama semakin deras karena di benakku hanya ada satu nama, hanya dia. Byun Baekhyun. Baekhyun, Baekhyun, dan Baekhyun. Aku ingin bertemu dengannya.

 

Tapi kenapa aku begitu bodoh?

 

Sudah dua tahun waktu berlalu setelah aku putus dengannya. Kenangan indah dan sakit yang kurasakan sudah terpendam jauh di sudut hatiku, termasuk alamat rumahnya. Aku lupa di mana Baekhyun tinggal, berapa nomor teleponnya, dan selai stroberi merk apa yang dimakannya bersama roti ketika sarapan. Aku lupa segalanya.

Kuberhentikan kakiku yang mulai pegal dan kram. Aku takut kakiku bengkak jika aku terus berlari. Di bawah rinai hujan kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru. Mataku langsung bertumpu pada sebuah rumah berlantai empat di depanku.

Tiba-tiba kenangan yang terlupakan melesak cepat memenuhi otakku, Byun Baekhyun adalah mantan pacar yang kutinggalkan dua tahun lalu, Byun Baekhyun yang gigih, Byun Baekhyun yang flatnya kukunjungi setiap hari dan nomor teleponnya kujadikan panggilan cepat nomor dua, Byun Baekhyun yang selalu makan roti bersama selai stroberi bermerk Yehet. Byun Baekhyun yang…

Aku tersenyum kecil mengingat masa laluku. Hujan semakin deras dan jika aku tetap berdiri di sini, aku akan mati kebasahan.

Kudekati flat yang jadi tempat tinggal Baekhyun. Aku ingat flatnya ada di lantai empat nomor 94, nomor dua dari pojok, dan aku selalu mengeluhkan masalah itu.

Tanpa sadar kakiku sudah membawaku ke depan flat bernomor 94. Membuatku bertatap muka dengan pintu hijau yang mulai terkelupas di depanku. Dengan tangan yang gemetar kedinginan, kupencet bel di sisi kanan kusen pintu.

“Sebentar…”

Suara yang kurindukan terdengar tidak lama setelahnya. Membuatku merinding. Membuatku ingin menerobos pintu lapuk ini dan berlari ke pelukan si tuan rumah.

Tidak lama setelah itu sosoknya muncul, mengeluarkan kenangan manis pagit yang selama ini kusimpan rapat dalam hatiku, menguak masa lalu yang telah lama terlampaui.

Baekhyun mengenakan kaus biru pemberianku di hari ulang tahunnya. Masih jelas dalam ingatan aku yang berputar-putar di Mall tiga jam penuh dengan rasa frustasi menjalar sampai ke ubun-ubun hanya untuk mencari kaus polos itu.

Mengalihkan pandangan dari kaus Baekhyun, kutatap jakunnya yang naik turun. Aku tidak berani menatap wajahnya. Aku tidak berani menggoreskan luka di hatiku yang belum sembuh. Aku belum siap meluapkan perasaan yang hampir membludag ini di hadapannya. Meski pada kenyataannya aku sangat ingin merengkuhnya, menangis sambil menjerit karena aku menyesal sempat meninggalkannya, aku masih mengendalikan diriku.

“Hai,” sapaku.

Kami terdiam sejenak. “Hai juga,” jawab Baekhyun gugup. Dia pasti bingung kenapa aku di sini. Kenapa perempuan yang meninggalkannya dua tahun lalu tiba-tiba muncul dengan keadaan basah kuyup super berantakan. Aku dapat memaklumi itu.

“Masuklah. Kau terlihat kedinginan,” kata Baekhyun dengan nada canggung. Aku senang Baekhyun masih bisa membaca bahasa tubuhku, tapi tidak ada lagi rangkulan hangat dan senyum manis yang diberikannya untuk menyambutku. Tidak ada lagi cerita lucu harian yang Baekhyun suguhkan untukku.

Ini terlalu canggung. Kami jadi seperti teman biasa yang dipaksa untuk kerja kelompok. Baekhyun bersikap sangat biasa, seakan kami tidak pernah berpacaran sebelumnya. Jujur saja, ini menggangguku.

“Duduklah, aku akan segera kembali,” kata Baekhyun kemudian pergi melesat kamarnya.

Kuedarkan pandanganku dan menemukan tatanan rumahnya yang masih sama. Di sofa yang kududuki ini, aku pernah berciuman beberapa kali dengan Baekhyun. Melingkarkan lenganku di lehernya sambil meremas lembut rambut beraroma mintnya yang lebat. Kemudian setelah itu, Baekhyun berkata padaku, “Aku tidak akan meninggalkanmu.” Dan, di sinilah kami.

Di dapur dekat tempatku duduk, aku sering memasakkan makanan untuk Baekhyun. Aku masih ingat dapur Baekhyun yang hancur berantakan saat Ia mencoba membuatkan bekal untukku. Dan sekarang, kondisi dapurnya tidak jauh berbeda.

Pandanganku bertumpu pada dinding kosong bercat biru muda, menyadari tidak ada lagi kumpulan polaroid yang dulu kujepit dengan tali di dekat dindingnya dan foto-foto kecil yang Baekhyun kumpulkan dalam satu figura 30×30. Satu-satunya fotoku bersama Baekhyun tergeletak di meja belajarnya. Foto kecil yang dibingkai figura 4×4. Mungkin Baekhyun lupa membuangnya.

Lama menunggu, akhirnya Baekhyun keluar dengan satu setel baju dan celana di tangan. Ia menyodorkannya ke arahku dengan wajah canggung.

“Aku sudah menyiapkan air hangat. Pakailah ini,” ujarnya kemudian. Masih sama seperti tadi, menggunakan nada formal.

Kuucapkan terimakasih pada Baekhyun, kemudian kulangkahkan kakiku ke kamarnya, mencabik-cabik isi hatiku lebih dalam dari sebelumnya.

Aku ingat betul kamar ini, kamar yang sering kutempati bersama Baekhyun dulu. Kami tidak melakukan apapun, hanya tidur satu ranjang dalam rengkuhan hangat satu sama lain dan aku merasa sangat bahagia saat itu. Masih segar dalam kenangan diriku yang terelap di ceruk leher Baekhyun dengan lengan kekarnya menjadi tumpuanku. Memang tidak seempuk bantal, namun lengannya terasa lebih nyaman.

Aku masuk ke kamar mandi dan menemukan wadah sikat gigi yang hanya berisi satu sikat gigi berwarna biru. Di hari-hari yang telah lalu, ada sikat gigi merah jambu juga di wadah itu, sikat gigiku. Kembali ke dunia nyata, aku mandi dengan air panas yang sudah disediakan Baekhyun untukku.

Setelah aku keluar dari kamar mandi, kupatut diriku di depan kaca benggala yang kutahu milik ibu Baekhyun. Kaca benggala ini sudah tidak terpakai dan dulu aku pernah memintanya, tapi tidak boleh.

Kemeja kombor yang pas melekat di badan Baekhyun bisa menjuntai sampai ke atas lututku. Sebenarnya Baekhyun juga memberiku celana tapi ukurannya terlalu besar, jadi aku tidak memakainya. Seingatku kemeja coklat yang kupakai saat ini adalah pakaian yang dikenakan Baekhyun saat pertama kali berkencan denganku. Apakah Baekhyun sengaja memberikan pakaian ini padaku untuk menandakan kalau ia masih mengingatku? Air mata sudah menggenang di pelupuk mata sampai pandanganku mengabur, tapi sebisa mungkin aku menahannya. Aku tidak boleh terlalu percaya diri.

 

Dua tahun adalah waktu yang lama bagi Baekhyun. Meskipun dua tahun terakhir lebih seperti penyiksaan untukku.

 

“Sudah selesai?” sambut Baekhyun setelah aku keluar dari kamarnya. Aku langsung mengangguk dan berterima kasih. Kami duduk di sofa bersama.

Baekhyun mengulurkan gelas berukuran kecil yang tertulis inisial ‘SH’ di sisi depannya, kemudian aku menreimanya. Kuhirup aroma coklat panas yang memenuhi rongga hidung dan paru-paruku dalam waktu singkat, menenangkanku. Sesaat kutatap Baekhyun yang sedang meminum coklat panasnya dengan gelas yang sama denganku namun berukuran lebih besar. di sisi depannya terdapat inisial ‘SY’. Aku ingat gelas pasangan ini hadiah Baekhyun saat hari ulang tahunku, namun kukembalikan padanya saat kami putus. Air mataku yang sejak tadi kutahan turun perlahan-lahan. Baekhyun yang sedang duduk di sampingku, dengan satu selimut menutupi tubuh kami berdua sedang asyik menonton siaran ulang drama I Miss You.

Kutegak coklat panas buatan Baekhyun lamat-lamat, merasakan sensasi hangat menjalar di seluruh permukaan tubuhku, memberikan sensasi yang membuat bulu kudukku kembali tertidur. Aku menghela nafas lega. Coklat panas Baekhyun hangat dan menenangkan, masih seperti dulu.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Baekhyun setelah kutaruh mug coklat panas tanpa sisa di meja kecil sebelahku.

“Baik,” sangat buruk tanpamu. “Bagaimana denganmu?” tanyaku balik.

Baekhyun mendecak, “Ya, seperti ini,” jawabnya dengan kepala mengitari seluruh menjuru ruangan.

Aku mengikuti arah gerak kepalanya, menemukan setiap sisi di rumah ini yang berantakan dan tidak tertata. Seingatku, sejak dulu flat Baekhyun memang sudah begini. Lalu apa yang dapat kusimpulkan?

Tidak mengerti maksudnya, kuikuti jejak Baekhyun yang sudah terlarut dalam cerita drama yang katanya tragis ini. Tidak lama kemudian, seseorang dalam film yang kuyakini adalah tokoh utamanya berucap,

“Lee Sooyeon, aku merindukanmu,”

“Aku juga, Han Jung Woo,”

Seandainya kau tahu, Baekhyun, aku merindukanmu. Sangat. Aku ingin kau berkata sedemikian rupa seperti yang ada di drama.

Dalam jarak yang hanya sekitar satu jengkal ini aku ingin merengkuhmu, menghilangkan jarak di antara kita denga kecupan-kecupan manis di bibir yang bercampur dengan aroma coklat panas yang masih tersisa. Namun itu semua harus kutahan demi egoku. Setitik air mata mulai jatuh lagi, kusandarkan kepalaku di bahunya dan mendesah kecil. Bisa kurasakan Baekhyun baru saja melirikku sekilas.

“Ceritanya menyedihkan,” kataku.

“Ya. Tragis,”

Aku berbohong, maaf. Aku menangis karenamu, Baekhyun, dan asal kau tahu aku sama sekali tidak menyimak drama itu kecuali disepuluh menit pertama. Dan sayangnya, kau tak akan pernah tahu.

 

***

 

“Sudah malam. Akan kuantar kau pulang,”

Saat dramanya susah habis dan mataku mulai terasa berat, Baekhyun berucap. Aku langsung berdiri setelah Baekhyun berdiri. Kutahan lengan kanan Baekhyun yang baru saja mengambil kunci motor. Dalam waktu yang begitu cepat, kuhempaskan tangan beserta kunci motor yang kurasa terlempar sangat jauh, kupeluk erat tubuh Baekhyun. Ia sepertinya terkejut atas perlakuanku.

“Aku tidak ingin pulang,” bisikku. Apakah suaraku begitu memilukan? Atau gendang telingaku mulai tidak berfungsi lagi?

Keadaan sunyi sesaat.

Kemudian kurasakan lengan Baekhyun mulai terangkat merengkuh punggungku, membalas pelukan yang kuberikan padanya. “Baik. Tinggallah untuk sementara waktu,”

Aku tidak dapat membohongi perasaanku yang lagsung menghangat setelah mendengar suara rendahnya mengalun seperti lagu ballad di telingaku, membuatku selalu menitikkan cairan bening ketika beradu pandang dengannya. Ada perasaan haru dan gelisah yang bercampur menjadi satu saat mata itu memancarkan sinar yang begitu teduh dan nyaman. Dan ketika aku mulai meremas bajunya sambil terisak, tangan hangatnya yang melingkar di pinggangku membawaku mendekat padanya. Menyalurkan kehangatan yang saat ini begitu kubutuhkan. Seperti kemauannya, kubenamkan kepalaku di balik dada bidangnya yang dihiasi dentuman tak beraturan sama sepertiku. Aku bisa merasakan nafasnya yang hangat menderu di dekat telingaku. Kemudian, dengan nada yang begitu halus dan rendah, dia membisikkan kata yang begitu tiba-tiba, membuatku kembali berpikir apa yang telah kami lalui selama ini, apa yang telah terlewatkan, apa yang sudah kulakukan padanya.

“Menikahlah denganku, Sooyeon,” tangisku pecah. rasanya saraf yang mengatur air mataku sudah rusak, namun sebisa mungkin aku menahannya.

Kugigit bibir bawahku kuat. Persetan dengan cairan besi yang mulai memenuhi mulutku dan air mata yang membasahi kaus biru Baekhyun yang kuhadiahkan untuknya. Aku tidak ingin ia mendengar tangisanku, apalagi mengetahui perasaanku. Aku tidak boleh egois.

Jin, apa yang harus kulakukan padanya.

Tanpa sadar, tangis yang sejak tadi kupendam akhirnya tumpah. kaus biru mudanya berubah menjadi biru tua yang sangat menjijikkan dengan air mata dan darah dari bibirku yang menempel di sana.

“Maaf..” gumamku tanpa sadar.

Pelukan hangat kyuhyun mulai terasa mengendur, namun aku meremas kausnya lebih dalam.

“maaf”,”maaf,” aku kalut.

Aku menangis lebih keras setelahnya. Hal terakhir yang kuingat adalah suara Baekhyun memanggil namaku berkali-kali. Setelahnya, semuanya gelap. Maafkan aku, Baekhyun. Aku tidak bisa memenuhi keinginanmu.

 

 

 

 

 

 

 

Jin adalah lelaki yang begitu sempurna. Namun, hanya Baekhyun tempat yang tepat untuk pulang

.

.

.

.

.

.

.

.

.

END

/liat ke atas/ KYAAAAAAAA!!!! /jejeritan bareng Jin/ IGE MWOYA?! ASTAGA, YA AMPUUUN T,T

Aku tahu kesalahanku dengan jelas di sini; aku salah menempatkan POV. Ya, aku tau tapi karena imajinasinya emang muncul dalam keadaan begini waktu aku lagi dengerin lagu Super Junior-Memories yang udah lumutan saking lamanya ga aku dengerin, akhirnya aku langsung ngetik di notes. Bagian yang bawah-bawah itu bahasanya keliatan beda sama atasnya kan? soalnya yang atas aku ngetiknya di laptop, ga se-mood bagian bawah yang aku tulis di notes hp. Padahal aku lagi dalam masa UTS masih sempet aja sih bikin beginian bukannya belajar -________-.

 

Buat para readers yang udah baca ff ini, makasih ya ^^ makasih udah mau mampir di ff super gaje ini, tapi lebih baik lagi kalo kalian tinggalin jejak setelah baca ff ini. Tolong kasih masukan buat aku, ya. Apa aja bakal aku terima kok. Sampai bertemu di lain waktu, dan doain UTSku lancar ya hehe. Moah~~

4 thoughts on “Reverse

  1. Billa -blak-blakan yaaa-… kok… ngenes e –” but that’s okay… ^_^b bahasnya enak dibaca/? Moga utsnya lancar… iyaaa kok malah nggak belajar? -aku juga ding-/plakk/

    • aku suka bikin cerita ngenes -__-)/ keke~~ yang ini kok “bahasnya enak dibaca/?” pake dikasih tanda tanya? macem ga tulus kau bilang begitu padaku. belajar? apa itu? /brb buka kamus/ wkwk. dasar pemalas.

  2. “kaus biru mudanya berubah menjadi biru tua yang sangat menjijikkan dengan air mata dan darah dari bibirku yang menempel di sana”
    biru tua yang menjijikkan. seperti apakah itu? aku masih belum bisa membayangkannya. bahasa sudah lumayan, hm…, keep fighting!^^

    • haha kamu tuh di dunia nyata ga pernah ngomong apa2 laginya di sini langsung deh xD makasih ya komennya.. hmm gimana ya? coba kamu bayangkan lebih keras(?) sip, aku akan terus berusaha ‘-‘)9 neeee keep commenting hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s