Eleven [Chapter 2]

ELEVEN 2

 

Author : billachan

Casts   : Seo Joohyun, Cho Kyuhyun, etc.

Genre: Romance, sad, angst

Type: Chapter

Rate: PG 15 (maybe?)

Disclaimer: ff ini murni dari otak author, jika ada yang sama itu hanya kebetulan

 

 

 

Happy reading and sorry for typo ^^

 

 

 

“Eonni, aku bersungguh-sungguh. Dia adalah namja paling kurang ajar yang berani sekali melakukan itu padaku. bayangkan saja, ia bahkan—“

“Yaaakk.. Seohyun! Berhenti membicarakannya. Kejadian itu sudah berlalu sekitar dua minggu yang lalu” potong Hyoyeon kesal. Matanya masih menatap lurus ke arah jalanan yang ramai dengan kendaraan roda empat.

Seohyun hanya dapat mengerang pelan karena Hyoyeon memotong kata-katanya yang masih seperempat jalan. Eonninya memang tidak mengerti bagaimana perasaan seorang gadis yang tidak pernah dekat dengan namja, lalu tiba-tiba saja seorang namja —yang baru ditemuinya sekitar satu jam sebelumnya— menghancurkan dansa dan gaun mahal limited edition yang seharusnya sudah terpajang dengan cantik di lemari khususnya saat ini. Menyebalkan, sinting, terkutuk… Setidaknya itulah yang ada di pikiran Seohyun.

Ia mendengus sebentar sebelum berbicara.

“Tetap saja rasanya masih sangat mengecap di pahaku, eonni. Huh, pahaku sudah tidak suci lagi karena namja menyebalkan itu” . “Nappeun namja” desis Seohyun sambil mengepalkan kedua tangannya, lalu memukul dashboard mobil untuk melampiaskan kemarahannya. Ia sedikit meringis karena pukulan yang ia berikan tadi terlalu kencang. Seohyun mengibaskan kelima jarinya, lalu meniupnya.

Hyoyeon melirik sebentar Seohyun yang duduk di sebelahnya itu lalu menggeleng pasrah.

“Dasar kekanak-kanakan” ejeknya.

 

***

 

“KAU MEMBUAT ULAH LAGI DI KANTOR?!” pekik eomma Kyuhyun sambil memandang garang Kyuhyun yang ada di depannya.

Eomma Kyuhyun melompat berdiri sampai meja di depannya maju beberapa senti. Kyuhyun memang sudah sering melakukan kesalahan di kantor tetapi ia tidak pernah sampai semarah ini.

“Eo.. eomma, aku tidak melakukan apapun” kata namja yang ternyata Kyuhyun itu memandang eommanya takut. Ia memegangi kedua pundak sang eomma untuk memberi ketenangan, tetapi tangannya langsung ditepis.

Eomma Kyuhyun sedikit frustasi karena putranya yang sangat sulit diatur. Sejak dulu Kyuhyun memang tidak menyukai bisnis dan apapun yang berkaitan dengan perusahaan. Malah bisa dibilang benci. Namun karena Kyuhyun adalah satu-satunya anak yang dapat dijadikan penerus, mau tidak mau Kyuhyun harus menerima keadaan dan mengubur dalam-dalam cita-citanya menjadi pemusik. Nyonya Cho sangat tahu akan hal itu.

“Tapi tingkahmu ini sudah sangat keterlaluan. Eomma akan laporkan kenakalanmu pada appa” tegas Nyonya Cho, lalu mengambil gagang telepon rumah, jari telunjuknya siap memencet tombol tapi Kyuhyun datang dan menggagalkan semua itu.

“Eomma, jangan lapor pada appa” mohonnya berkali-kali dengan nada memelas.

Appanya, Tuan Cho adalah orang yang sangat tegas dan bijaksana. Tidak terlalu banyak bicara tetapi saat ia membuka mulut kata-kata yang dilontarkannya sangat mengenai sasaran, tidak pernah pandang bulu dalam membela seseorang. Bahkan Kyuhyun yang merupakan anaknya sendiri saja sering ia beri pelajaran.

Yeoja paruh baya itu tidak menghiraukan rengekan putranya.

“Oppa..” Nyonya Cho mengeluarkan nada mesranya saat telepon sudah tersambung. Namun sayang orang di seberang hanya menjawab ‘ya’ dengan nada datar.

“Datang ke sini segera, ada yang ingin aku bicarakan” suara Nyonya Cho langsung terdengar jelas dan tegas seperti seorang presiden yang ingin menjalankan tugas negara.

 

Klik!

 

Nyonya Cho berbalik dan menatap Kyuhyun sebentar, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Eomma sudah menelpon appa. Sekitar lima belas menit lagi dia pasti datang” katanya singkat.

Dan dunia Kyuhyun seperti lenyap saat itu juga.

 

***

 

“APA?! MEMBUAT ULAH LAGI?!” pekik seseorang lalu menurunkan koran yang sejak beberapa menit yang lalu menutupi wajahnya dengan nafsu. Tuan Cho lah yang melakukannya.

Kyuhyun hanya dapat menunduk dan memperhatikan pantulan bayangannya yang tidak membias sempurna di lantai. Jika sudah berteriak dan menghempaskan apapun yang ada di dekatnya Tuan Cho pasti sudah marah besar. Kyuhyun hafal benar dengan kebiasaan itu.

“Kau tahu selama ini aku mendidikmu untuk apa, hah?! Aku…”

Tuan Cho terus berbicara dengan suara lantang, tetapi Kyuhyun hampir tidak mendengarnya sama sekali karena tanpa mendengarkan pun ia sudah hafal apa yang akan appanya ucapkan.

“Appa, kumohon jangan hukum aku. Aku sudah meminta maaf pada gadis itu dan ia memaafkannya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi” ucap Kyuhyun dengan nada memelas sambil berlutut di depan ayahnya, meskipun ia tak yakin rayuan itu akan berhasil.

Mata sipit Tuan Cho membulat sampai hampir keluar dari tempatnya setelah mendengar penuturan Kyuhyun.

“Mwo?! Gadis apa?!” pekikan dari Tuan Cho kembali memenuhi kamar Kyuhyun yang berukuran sedang itu. “Tadi aku membicarakan agar kau tidak buang angin sembarangan saat rapat berlangsung” lanjutnya mengoreksi ucapan Kyuhyun dengan tatapan tajam.

Celaka.

Kyuhyun merutuki dirinya sendiri dalam hati. Ia kira Tuan Cho akan membahas tentang kecerobohannya saat dansa di pesta pernikahan anak relasi kerja appanya dua minggu yang lalu. Ia kira Seohyun mengadu pada appanya kalau ia sudah melakukan yang tidak-tidak pada yeoja itu.

Tapi… kenyataannnya ternyata sangat berbeda. Kyuhyun menelan ludahnya dan mengerjapkan mata beberapa kali.

Kyuhyun bahkan lupa dengan kebiasaannya buang angin sembarangan saat sedang ada rapat, sekarang ia lebih sering memainkan PSP kesayangannya dan menyetel volume sekeras mungkin saat rapat.

“Kyu.. kau sudah keterlaluan” kata Tuan Cho membuyarkan lamunan Kyuhyun.

Kyuhyun menegapkan tubuhnya dan bersikap sebaik mungkin agar Tuan Cho tak memberi vonis yang berat, tapi sepertinya semua sudah terlambat. Suara tegas berwibawa itu kembali bergema di kamarnya.

“Kemasi barang-barangmu dan kau tidak boleh kembali sebelum sikapmu berubah” bentak Tuan Cho, mendorong Kyuhyun ke luar pagar, lalu melemparkan sebuah koper besar yang baru selesai dikemas salah satu pelayan di rumah megah itu.

Kyuhyun menerima koper berat itu dengan tubuh lemas. Masih tak percaya dengan apa yang dihadapinya.

“Eomma akan menunggumu, Kyu” Nyonya Cho berucap lirih sambil menatap putranya prihatin (tatapan lemah yang sebenarnya tidak begitu Kyuhyun sukai) lalu menutup pintu pagar dengan berat hati.

Ibu macam apa yang tega membiarkan putranya berkelana jauh ke alam tanpa uang sepeserpun? Ia memandang putranya sekali lagi. Ada dorongan dari dalam dirinya untuk menarik Kyuhyun, tapi jika sang kepala keluarga sudah turun tangan, apa boleh buat.

“Oppa, apa tidak terlalu jahat jika kita mengusirnya dari rumah?” tanya Nyonya Cho setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan sang suami.

Tuan Cho menggeleng sambil terus berjalan dan menunduk, ia menghela nafasnya. “Tidak, ini semua kulakukan demi kebaikannya”

 

***

 

Kyuhyun mengikuti ke mana kakinya melangkah. Ia tak tahu tempat apa yang ada di hadapannya saat ini. Ia membentangkan pandangannya dan sangat bersyukur karena bisa menemukan bangku panjang setelah beberapa jam berjalan. Tanpa menunggu waktu lama, Kyuhyun langsung mendudukkan pantanya di bangku itu lalu membuka kopernya, mencari sesuatu yang mungkin dapat membantunya.

Kyuhyun mengeluarkan sebuah celana jeans berwarna biru tua lalu menggelarnya. Ia merogoh saku kanan celana itu.

“Bingo!”

Senyum secerah matahari pagi yang baru saja terbit Kyuhyun ukir setelah menemukan selembar uang di kantung celananya.

Selembar uang sepuluh ribu won bisa digunakan untuk menyewa hotel kecil selama beberapa hari. Dan ia cukup bersyukur karena selalu menyisakan selembar uang sepuluh ribu won di semua saku kanan celananya untuk berjaga-jaga. Sepertinya lain kali ia harus menyisakan uang lima puluh ribu won.

“Kalau begini aku tetap bisa hidup enak. Kekeke” tawa Kyuhyun setelah menelanjangi kesepuluh celana yang ada di kopernya.

Setelah merasa cukup, Kyuhyun kembali mengemasi barangnya. Kyuhyun memakan permen kecil berbungkus kuning yang ia temukan di kantungnya dan melanjutkan perjalanan. Ia membiarkan kakinya melangkah sendiri ke tempat yang sangat asing baginya.

Kerikil-kerikil kecil yang tak bersalah itu seakan menjadi pelampiasan yang cukup menarik bagi Kyuhyun. Berkali-kali ia tendang kerikil itu sambil menggumamkan kata-kata asal. Merutuki nasibnya.

Kyuhyun hendak mengumpat untuk kesekian kalinya, tetapi tidak jadi. Alunan lembut piano yang terasa tak jauh darinya membuat saraf-saraf yang tadi muncul di sekitar lehernya sedikit mengendur.

Kyuhyun berjalan mendekati alunan melodi lembut dari alat musik piano itu dengan menajamkan pendengarannya. Tubuhnya ia sembunyikan di balik pohon besar di seberang jalan.

 

Tidak… ini tidak mungkin..

 

Berkali-kali Kyuhyun mengucek matanya untuk meyakinkan apa yang saat ini dilihatnya.

Dia, Kim Seohyun.

Yeoja yang sedang bermain piano dengan anak-anak panti asuhan itu adalah Kim Seohyun. Kyuhyun menajamkan pengelihatannya agar dapat menangkap sosok yeoja berbaju putih terusan dengan senyum yang tak pernah pudar itu, terlihat seperti malaikat.

Senyumnya, tawanya, sorot matanya benar-benar berbeda dengan yang ia lihat dua minggu lalu. Mungkinkah itu Seohyun? Atau yeoja lain yang berwajah sama?

Mata Kyuhyun yang tadi sempat terpejam, terbuka seiring dengan alunan musik yang mulai berakhir. Sepertinya cukup hanya dengan melihat tontonan gratis seperti ini. Ia harus menemukan tempat untuk tinggal sementara waktu sebelum matahari terbenam.

“Kalian suka?” suara lembut Seohyun langsung disambut anggukan senang oleh beberapa anak yang berkumpul sambil memakan potongan apel di taman depan itu.

“Ulangi lagi, eonni” suara cempreng khas anak kecil berseru membuat Seohyun tersenyum senang menanggapinya. Ia memainkan pianonya lagi untuk memuaskan anak yang tadi berseru itu, dan anak panti yang lainnya.

Perlahan Kyuhyun membawa tangan kanannya untuk menyentuh dadanya. Sangat menyenangkan. Mendengar alunan piano yang Seohyun mainkan terasa damai dan menyejukkan baginya.

 

***

“Ne, arraso. Aku akan mengusahakannya”

Suara yeoja terdengar tak jauh dari Kyuhyun. Ia memberhentikan langkahnya dan mencoba mencari sumber suara yang terdengar tak asing itu.

“Tapi bisakah sedikit diundur? Kira-kira beberapa minggu lagi?”

Suara itu kembali terdengar tapi Kyuhyun belum berhasil menemukannya.

“Aku kasihan dengannya. Waktu istirahatnya pun banyak terpakai untuk menonton anime”

Kyuhyun mengintip dari balik tembok besar yang sudah agak tua. Memisahkan jarak antara ia dan yeoja yang sedang bercakap-cakap di telepon itu. Kim Hyoyeon.

Kyuhyun hampir mengira yeoja itu melihat hal yang seharusnya tak tampak karena bicara sendiri. Ternyata dugaannya salah, yeoja itu sedang bertelepon. Lalu, apa yang sedang dibicarakannya? Seohyun kah?

Oh, cukup. Sepertinya ia sudah terlalu peduli dengan yeoja itu.

“Tapi ia membutuhkan asisten sekaligus bodyguard yang siap menjaganya kapan saja. Sudah banyak sekali orang yang mengundurkan diri karena sikap manjanya”

Kyuhyun semakin mempertajam pendengarannya saat Hyoyeon menghela nafas.

“Arraso”

Kyuhyun menyender ke dinding itu sejenak untuk berpikir. Asisten? Bodyguard? Hmm.. sepertinya tidak terlalu buruk. Lagipula mungkin ini bisa menjadi saat yang tepat untuk menyampaikan permintaan maafnya pada Seohyun. Yah, walaupun Kyuhyun terkenal sebagai namja arogan, menyebalkan, sok cool, dan banyak lagi sifat-sifatnya yang membuat para yeoja mudah takluk, ia bukan orang yang sombong. Setidaknya menurut dirinya sendiri.

Terlalu lama menimang keputusannya, Kyuhyun hampir saja melewatkan Hyoyeon yang sudah hampir berlalu melewatinya. Ia menyerukan nama yeoja itu.

“Hyoyeon-ssi”

Hyoyeon yang merasa namanya dipanggil menoleh, matanya sedikit ia sipitkan.

“Eoh, Kyuhyun-ssi” senyum ramah Hyoyeon berikan kepada Kyuhyun. Padahal dalam hati ia berkata, ‘dasar namja menyebalkan. Karena dirimu adikku jadi semakin manja’.

Kyuhyun bingung ingin memulai percakapan dari mana. Rasanya tidak lucu jika ia langsung bertanya tentang apa saja yang tadi sempat didengarnya. Terdengar tidak sopan. Tapi otaknya yang tak sejalan dengan mulutnya membuat ia tak sengaja berucap, “Apa kau sedang membuka lowongan pekerjaan?”

“Hm? Lowongan pekerjaan? Tidak.. hanya saja Seohyun sedang membutuhkan asisten dan bodyguard”

“Apa aku boleh melamar?” sekali lagi, Kyuhyun merutuki dirinya yang begitu mudah bertanya. Hilang sudah imagenya sebagai namja cool.

Sementara Hyoyeon sedikit menimang keputusannya. Benarkah? Atau.. malah salah? Selama ia belum menemukan asisten dan bodyguard Seohyun tak akan bisa mengadakan konser. Bayangkan saja, Hyoyeon yang bertubuh mungil harus membantu Seohyun mengangkat salah satu kopernya dan menghalangi serangan kuli tinta yang sering mengejar adiknya. Sepertinya kurang pantas. Untuk mengatur jadwal tampil saja sudah membuat Hyoyeon kelabakan sendiri, apalagi kalau harus merangkap tugasnya.. bisa-bisa ia tak memilki waktu untuk istirahat.

“Hyoyeon-ssi?”

Suara Kyuhyun dan tangan yang melambai di depan wajahnya membuat Hyoyeon tersadar.

“Apa aku boleh? Aku memang anak orang kaya tapi ingin mencoba mandiri. Tolong ijinkanlah aku” ujar Kyuhyun memelas. Ia tak mungkin bicara hal yang sebenarnya, bukan. Kharismanya akan semakin luntur jika hal semacam itu terjadi.

‘Sial, aku semakin terlihat konyol’ batinnya.

“Baiklah” ujar Hyoyeon singkat namun dapat menyetrum tubuh Kyuhyun.

“J-jinjjanayo?!” tanya Kyuhyun tak percaya dengan meninggikan suaranya satu oktaf.

Hyoyeon meyakinkan pada dirinya kalau yang ia lakukan sudah benar. Satu anggukan pelan darinya menjawab pertanyaan Kyuhyun.

“Yaaaa!! Aku dapat pekerjaan!”

 

***

 

Seohyun duduk di sofa merah ruang tamunya, lalu menghela nafas. Seharian berbelanja dengan Hyoyeon membuat tulang-tulangnya terasa remuk tak bersisa. Pergelangan tangan dan kakinya ia renggangkan sejenak untuk menghilangkan rasa pegal di daerah itu.

Jangan tanya ke mana eonninya saat ini. Seohyun sengaja meninggalkan Hyoyeon di salon facial dekat rumahnya karena rasa lelah yang benar-benar menyiksa tubuhnya. Helaan nafas itu keluar lagi, membuat kepulan uap kecil keluar dari mulutnya kemudian menghilang. Ia mengangkat pergelangan tangan kirinya untuk melihat jam berapa sekarang.

Jam 4 sore.

Masih sore tapi rasanya sudah gerah. Mandi air hangat atau memakan ramyun langsung dari pancinya terdengar tidak buruk. Seohyun menggerakkan kepalanya ke kanan, ke arah dapur yang selalu bersih itu.

Seohyun ingin bangkit tapi niatnya ia urungkan karena masih sama seperti tadi, tulangnya remuk. Ah, sepertinya ia akan sangat bahagia kalau ada asisten yang selalu ada untuknya. Ngomong-ngomong soal asisten, Hyoyeon bilang ia sudah mendapatkannya dan akan mengenalkan asisten itu secepatnya. Berarti sebentar lagi tawaran pekerjaan akan membanjiri dirinya.

“Appa.. eomma.. Hyo eonni.. aku”

Hal yang biasa Seohyun lakukan di waktu senggang, mengabsen satu per satu anggota keluarga intinya. Di dekat tempatnya duduk memang terdapat sebuah bingkai foto kecil yang terpajang rapi di sebuah meja. Bingkai itu sering Seohyun gunakan untuk mengabsen. Ia masih tak percaya bisa mendapatkan keluarga yang baik dan mengerti dirinya. Keluarga idaman yang selalu Seohyun dambakan saat masih di panti asuhan dulu.

Bingkai foto yang tadi diambilnya kembali ia taruh ke meja kecil dengan senyum yang belum memudar.

 

Krieeekk~

 

Suara pintu yang terbuka dengan itu langsung membuat Seohyun menoleh. Ia mendapati Hyoyeon sedang berdiri di ambang pintu dengan beberapa kantung belanja yang warnanya berbeda-beda. Wajah Hyoyeon yang memerah padam itu membuat Seohyun semakin takut untuk menghadapi kakaknya.

“Seohyun!”

Glek. Seohyun menelan ludahnya setelah mendengar teriakan marah itu.

“Seohyun! Sebentar lagi asistenmu datang dan aku belum mandi! Aigoo.. ottohke? Cha, belanjaanmu sudah kutaruh di dekat nakas” Hyoyeon menggelung rambut kungingnya tergesa dan langsung memasuki kamar mandi dengan debaman yang lumayan kencang, membuat Seohyun mengerjapkan matanya beberapa kali lalu bergidik.

Ia memusatkan pandangannya ke nakas, tempat kantung belanja berwarna-warni hasil buruannya dan Hyoyeon lalu membuka kantung itu satu per satu.

Merasa sudah cukup, Seohyun berjalan ke dapur untuk membuat minum. Segelas teh hangat sepertinya tidak buruk. Yah, sebenarnya Seohyun memang tergolong orang yang cuek tapi ia tidak suka orang lain memandangnya sebelah mata, mengejeknya atau apapun yang membicarakan dengan kejelekannya, ia sangat tidak suka. Apalagi ini adalah kesan pertamanya. Kesan pertama harus menyenangkan dan tanpa beban. Toh, jika asistennya mengundurkan diri lagi Seohyun juga akan ikut kesusahan.

 

Ting tong~

 

Suara bel rumah membuat Seohyun tersentak. Ia menaruh sendok kecil yang tadi digunakannya untuk mengaduk di atas cangkir, lalu memakai sandal rumah keroronya.

Seohyun yang terlalu semangat tidak mengecek layar intercom dulu sebelum membuka pintu. Ia sudah yakin siapa yang datang di sore menjelang petang ini. Asistennya, ya, pasti dia. Dan dengan segenap keyakinan itu Seohyun membuka pintu rumahnya.

“Kau sudah datang? Silahkan masuk..”

Suara Seohyun yang ia buat seramah mungkin itu terdengar. Ia tetap menundukkan kepalanya karena gugup.

Sementara asisten itu masih tetap membuntuti Seohyun sampai ke sofa. Teh hijau yang terhidang di depannya langsung ia habiskan setengahnya.

“Jadi.. kau yang akan jadi asistenku” kata Seohyun, mengangkat kepalanya setelah selesai menyesap teh hijau bikinannya sendiri. Matanya membulat melihat siapa orang yang sedang duduk berhadapan di depannya.

“Kau?!?!” Pekikan frustasi Seohyun seakan memenuhi ruang tamu itu.

Tidak… itu tidak mungkin Cho Kyuhyun.. namja itu bukan asistenku.

 

 

 

TBC

 

 

Hihihi akhirnya TBC😀 bagaimana readers? Aneh? Atau belum bisa ketebak konfliknya di mana? Sabar ya ini kan masih chap 2.. perjalanan masih panjang. Aku usahain buat bikin clue di setiap chapternya sih. Tapi kayaknya terlalu semu #plakk. Next part aku post secepatnya deh..

 

Aku agak kecewa sama comment kalian yang di chapter 1 sih sebenernya. Sedikit patah semangat dan agak ngambek tapi aku berusaha nahan karena ini masih permulaan. Aku ga mungkin berenti di part 1, itu lucu banget, kan? Yang aku pengen dari kalian itu respon.. sejelek apapun karya seseorang, orang itu sudah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membuatnya. Dan kalau memang jelek tolong kasih tau di mana jeleknya biar bisa aku benerin karena aku juga masih bocah yang harus banyak belajar.. aku liat kayaknya di sini banyak yang lebih tua dari aku.

 

So, jangan takut buat comment. Aku ga bakal gigit kok. Comment yang manis, yang pedes, yang pedes banget juga bakal aku terima toh demi kebaikan aku juga, dan kalian dapet pahala karena udah ngingetin orang😀 .

 

Oke, maafkan author yang terlalu cerewet ini T,T sekarang waktunya RCL ^^.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s