First Love 1

Author  : billachan

Genre: Romance, comedy, fantasy, school life

Casts: Seo Joohyun, Cho Kyuhyun, etc

Type: Chapter

Rate: Umm.. PG 13

Disclaimer: ff ini murni dari otak author, jika ada yang sama itu hanya kebetulan

.

.

.

.

Happy reading ^^

.

.

.

.

AUTHOR POV

 

Cuaca dingin memenuhi kota Seoul pagi itu. Kicau burung sama sekali tidak terdengar dan matahari pun bersembunyi di balik gumpalan awan. Meskipun suhunya terbilang tidak normal sepertinya itu tidak akan menjadi halangan bagi orang-orang untuk melakukan kegiatan rutinnya. Karena ini adalah Hari Selasa, hari sibuk kedua yang membuat semua orang mau tidak mau tetap harus menjalankan kawajibannya.

Seperti yang dilakukan murid-murid SM Senior High School, tetap memikul buku di punggunggnya walaupun bibirnya sudah mulai membiru. Ya, seperti yang sedang dilakukan yeoja cantik bernama Seo Joohyun yang memakai kupluk kuning, sarung tangan kuning, tiga lapis baju di dalam seragamnya, juga celana training selutut yang balapan dengan rok seragamnya.

“Annyeong haseyo”

“Annyeong haseyo”

“Annyeong haseyo”

Sapaan ringan serta bungkukan kecil terus dilakukan yeoja itu setiap ada orang yang melewatinya. Ramah? Ya, malah sepertinya terlalu ramah karena sebenarnya ia sama sekali tidak mengenal siapa yang disapanya, walaupun mereka menjawab dan memanggil namanya dengan benar.

“Annyeong haseyo, Seohyun-ah”

Glek. Yeoja bernama Seo Joohyun yang sering dipanggil Seohyun itu menghentikan langkahnya. Ia melirik gerombolan namja di depannya satu persatu dengan pandangan ragu. Mereka semua tinggi, tampan, bertalenta, dan memiliki daya tarik yang kuat, tapi hal itulah yang membuat Seohyun takut.

“Ne, annyeong haseyo..chingudul.” jawab Seohyun. Suaranya terdengar was-was lalu sesaat kemudian ia memasuki kelas yang ada di depannya, kelas 11E. Tatapan dari rombongan namja tadi seolah mengiringi langkahnya.

Seo Joohyun atau Seohyun adalah gadis paling pintar di sekolah. Ia memiliki segudang bakat cemerlang sampai ia tidak tahu saat sudah besar nanti ingin jadi apa. Kepintaran di atas rata-rata, kulit putih mulus, dan sikap seperti malaikat membuatnya mudah dikenali dan menjadi pujaan hati bahkan cinta pertama banyak namja di sekolah. Termasuk namja yang bergerumul menyapa Seohyun di depan kelasnya tadi, mereka adalah penggemarnya.

“Seohyun-ah, sini”

Sapaan dari seorang yeoja langsung menyambut Seohyun ketika ia memasuki kelas. Yeoja dengan rambut hitam bergelombang, dan cantik seperti Seohyun itu bernama Im Yoona, sahabat Seohyun. Mereka berdua sangat mirip tetapi berbeda di beberapa bagian. Seohyun bisa dibilang lebih pintar dan suka menyanyi, sedangkan Yoona suka berpose dan pintar menari.

“Gomawo, Yoongie” jawab Seohyun.

Tanpa basa-basi Seohyun duduk di kursi yang sudah dijagakan Yoona untuknya. Memang seperti itu yang terjadi setiap hari. Mereka saling menjagakan kursi dengan tas mereka seolah tidak ada yang boleh duduk di sebelah Yoona selain Seohyun, dan sebaliknya.

“Kau ke mana saja, eoh? Kenapa baru datang?” sambar Yoona sesaat sesudah Seohyun mendudukkan pantatnya di kursi.

“Mian, bis yang kutumpangi tadi penuh sesak karena jalanan licin. Wae? Ada pr yang ingin kau tanyakan?”

“Awalnya begitu tapi kau tidak segera datang. Jadi aku bertanya dengan Jessica” Seohyun tersenyum menanggapi Yoona.

“Ara, berarti tidak masalah kan aku datang terlambat”

“Aish, hei, lihat itu di jendela, namja-namja itu. Penggemar yang menanti hati seorang Seo Joohyun untuk terbuka. Aigoo mereka manis sekali” kata Yoona sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah jendela. Nada suaranya ia buat berlebihan membuat Seohyun ingin menelannya hidup-hidup.

“Anni, mereka bukan penggemarku. Mungkin mereka sedang mencari teman mereka di sini” jawab Seohyun asal sambil mengeluarkan buku matematika untuk pelajaran pertama, mencoba bersikap acuh untuk menyembunyikan rona merah di pipinya yang entah sudah muncul sejak kapan. Tapi sepertinya jawaban itu malah membuatnya semakin tampak kikuk di depan Yoona.

“Yak, neon babo? Mereka tidak mungkin mencari teman mereka setiap hari di kelas yang sama. Jangan berpura-pura bodoh di depanku”

“Aish, molla”

“Kau ini, coba kau hitung mereka ada hana, dul, set, sa, oh, yo, chil, phal, gu, sip… anni, mereka lebih dari itu. Lebih? Ya.. Seo Joohyun jinjja” Yoona menggeleng tidak percaya melihat kerumunan namja yang mengintipi Seohyun dari balik kaca jendela. Banyak sekali dan semuanya tipenya. Aduh ya ampun, dasar gerombolan penguntit, gumamnya.

Yoona kembali melihat Seohyun dan tidak sengaja mendeteksi adanya rona merah di pipi chubby itu. Walaupun Seohyun sudah menunduk berpura-pura menyelesaikan pr matematika yang sudah dikerjakannya minggu lalu dan membiarkan beberapa helai anak rambutnya menutupi wajahnya, rona itu tetap terlihat. Sungguh naas. Pandangan jenaka langsung menyelinap di wajah Yoona.

“Hmm.. tidak kusangka kau bisa secepat itu merasa malu”

Mata Seohyun membulat, lalu tangannya tergerak untuk menutupi wajah merahnya. “Anya!”

.

.

.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul 7.50 tapi suasana di depan kelas 11E masih seperti biasa, ramai. Ramai dengan anak-anak yang berlalu lalang menuju kelas mereka masing-masing, juga ramai dengan serbuan namja yang merupakan…

Penggemar Seohyun.

Gerombolan namja top dan kece ada di sana dan seperti kata Yoona, mereka menunggu hati Seohyun terbuka untuk salah satu dari mereka. Kemudian kalau sudah ada yang berhasil memiliki Seohyun, mereka akan saling beradu atau ‘menumpahkan darah’ sampai akhirnya mereka semua bisa mendapatkan perhatian Seohyun dengan adil. Hal ini memang belum pernah terjadi, tapi mereka semua sudah menanamkan prinsip itu dalam hati mereka.

“Omona.. Seohyun”

“Dia cantik sekali”

“Ne, neomu yeppo”

“Dia benar-benar seperti malaikat”

Pujian itu diutarakan oleh hampir semua namja yang berdiri di sana dengan gamblang dan tanpa hambatan. Ada yang membawa kertas dan pulpen agar bisa menulis puisi sambil melihat wajah Seohyun, memotret Seohyun diam-diam lalu menjadikan foto Seohyun sebagai avatar, dan banyak lagi…

Tapi ada seorang namja yang tidak melakukan tindakan yang sama dengan namja-namja di sana. Walaupun ia berdiri persis di tengah para namja yang memuji Seohyun, tapi pikirannya tidak berpusat pada Seohyun. Melainkan pada ponselnya. Sesekali bibirnya menggumam mengikuti lirik lagu yang sedang diputar di earphonenya.

“Yak, Cho Kyuhyun”

Namja yang daritadi komat-kamit sambil memejamkan mata itu terkesiap ketika salah satu temannya mencabut earphone dari telinga kirinya.

“Wae, Changmin?” tanya namja bernama Kyuhyun itu pada temannya.

“Tumben sekali kau datang ke sini, eoh? Kau tertarik dengan Seohyun?” bukannya menjawab Changmin malah bertanya balik dengan pandangan menggoda.

Kyuhyun terkekeh, “Aku hanya ke sini karena tidak ada teman di kelas” jawabnya.

“Ah, jinjja? Ta..”

“Kurang 10 menit lagi kita masuk, kawan. Aku kembali~” Kyuhyun memotong Changmin cepat, lalu setelah itu berlari dan menghilang di balik tikungan.

Di balik tikungan Kyuhyun berhenti. Ia mengatur nafasnya karena berlari terasa cukup menguras tenaganya karena kelas Seohyun yang terpisah sedikit jauh dari kelasnya. Perlahan Kyuhyun mendudukkan tubuhnya di kursi di depan kelasnya. Sesaat kemudian ia masuk ke kelasnya di 11C, menyapa teman-teman yang dilewatinya, lalu membuka lokernya yang penuh dengan stiker, bunga, parfum, dan soufenir-soufenir mahal yang semuanya adalah hadiah dari fansnya di seantero sekolahan mulai dari sunbae, hoobae, sampai teman seangkatan. Hadiah yang sudah sedikit berdebu itu dikeluarkannya satu per satu dengan hati-hati agar tidak rusak.

Kyuhyun mencari kartu pemberian dari fansnya dan meneliti kartu itu dengan jeli sampai ke urutan paling bawah. Satu pertanyaan langsung muncul di otaknya dan ia segera mengernyit.

“Seo Joohyun eobseo?” tanya Kyuhyun pada diri sendiri. Benar-benar tidak percaya kalau nama Seo Joohyun tidak ditemukan di semua kartu ucapan yang diterimanya.

 

KRIIING

 

Bel masuk yang memekakkan telinga itu lebih terdengar seperti malapetaka besar. Siswa siswi yang semula melakukan aktifitas santainya langsung menjerit ketakutan dan berlomba-lomba lari ke kelas mereka sendiri. Sementara Kyuhyun hanya mengindikkan bahu, duduk, lalu memasukkan hadiah-hadiah dari fansnya ke dalam tasnya. Kyuhyun memang sama sekali tidak memiliki niat untuk memakai untuk barang-barang itu, tapi sebertinya ibu Kyuhyun senang jika dibawakan oleh-oleh kekeke.

“Baik, hari ini pelajaran musik dimulai. Siapkan buku musik kalian.” ujar Kangta Songsaenim yang baru saja memasuki kelas dengan kemeja dan celana kerja, sepatu hitam lancip (yang sepertinya disemir setiap hari), kacamata bulat, juga rambut cepak seperti biasa.

Siswa siswi di kelas Kyuhyun tidak merasa menderita karena pelajaran pertamanya adalah seni musik. Semua orang di SM Senior High School suka musik dan tari.

“Hari ini akan ada ujian dadakan untuk kalian” Anak-anak di kelas Kyuhyun tampak kebingungan karena perkataan tegas Kangta songsaenim. “Jadi aku akan menunjuk kalian satu persatu” lanjutnya, membuat keributan di kelas itu semakin menjadi. Walaupun SM Senior High School adalah sekolah yang menerima nilai-nilai fantastis dan bakat cemerlang, itu tidak menjamin semua anak didiknya bisa menyanyi.

“Shikkeureo!” bentakan Kangta songsaenim sangat tegas, membuat semua anak langsung diam dan menciut seperti kelinci ketakutan. Kyuhyun pun juga begitu tapi wajah sok coolnya masih dapat menutupi ketakutannya.

“Cho Kyuhyun, nawa” Kangta songnaenim menolehkan kepalanya ke kanan cepat, menyuruh Kyuhyun berdiri untuk menyanyikan sebuah lagu di samping kanannya.

“Naega?” Kyuhyun menunjuk dirinya sendiri.

“Ne, ppali”

Kebanyakan siswi di kelas itu memekik tertahan saking senangnya karena bisa mendengar suara Kyuhyun yang dapat menyejukkan hati mereka lagi. Sementara Kyuhyun hanya menyunggingkan senyum miring yang menggoda selama perjalanannya ke depan kelas. Pujian-pujian dari banyak yeoja dapat Kyuhyun dengar dengan jelas meskipun mereka mengucapkannya sambil berbisik. Suara Kyuhyun yang khas sudah seperti rahasia umum di sekolah.

 

 

***

 

 

Keadaan di kelas Kyuhyun yang ceria dan santai, berbeda dengan kelas Seohyun. Suasana di kelas itu bisa dikatakan sangat suram dan seperti tidak berpenghuni. Pasalnya saat ini Sooman songsaenim, guru matematika paling garang di sekolah sedang megadakan latihan ulangan yang soalnya sangat sulit, bahkan tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Soal di secarik kertas itu terbilang sedikit sulit untuk murid sejenis Seohyun, sedangkan untuk murid yang lain…. sudah dipastikan mereka akan ketinggalan kereta. Walaupun ini hanya latihan ulangan biasa, Sooman songsaenim selalu melarang contek mencontek, kerja sama, buka buku, atau kegiatan lainnya yang berkaitan dengan kecurangan. Pokoknya semuanya harus dikerjakan secara mandiri dan selesai dengan nilai yang memuaskan. Kalau sampai ada yang ketahuan curang, tangannya akan dipukul pakai penggaris kayu yang bisa menimbulkan memar lebih dari 3 hari. Dan kalau ada yang nilainya kurang bagus, ia akan mendapatkan kursus tambahan sampai jam 1 malam di sekolah. Heol, guru senior memang ganas. Menyedihkan.

“Yoong.. yoongie..” Seohyun terus menendang kaki Yoona tapi tidak dihiraukan oleh pemiliknya.

“Yoong-a” rengek Seohyun dengan nada berbisik yang menyedihkan, membuat Yoona menoleh was-was.

“Wae?”

“Apha” kata Seohyun sambil memegangi perutnya.

Seohyun jengkel sekali karena Yoona kembali mengerjakan soalnya bukan menghiburnya. Satu-satunya jalan adalah lapor ke Sooman songsaenim yang menakutkan itu. hah, untuk membayangkannya saja sudah membuat Seohyun gemetaran.

‘Ayolah Seo Joohyun, kau kan murid teladan. Fighting!’ batin Seohyun sambil mengepalkan tangannya, menyemangati dirinya sendiri.

Sebelum mendekati Sooman songsaenim ia membenarkan seragam, tersenyum sopan, lalu membawa kertas latihan ulangannya yang sudah selesai.

“Songsaenim, saya ingin ijin ke belakang” Seohyun berkata lembut sambil tersenyum cerah, membuat aura cantiknya semakin terlihat jelas. Namja-namja yang tadi sibuk dengan kertas di mejanya, kini menyibukkan diri menatap ‘Seohyun yang bersinar’.

“Ne, silahkan”

Seohyun tersenyum membungkukkan badannya. “Kamsahabnida, songsaenim” ujarnya, lalu menghilang di balik pintu.

“Apa yang kalian lihat? Penggaris kayu ini, eoh?!”

.

.

.

.

.

Seohyun yang tadi berjalan riang di depan kelasnya, sekarang mendudukkan tubuhnya di depan kelas 11D kasar.

Seohyun memegangi perutnya yang sakit tidak berdaya. “Ah, nyeri.. sepertinya besok aku akan kedatangan tamu bulanan” gumam Seohyun pasrah.

Sesaat kemudian ia mengerang mengingat sesuatu, “Sesange, hari ini ada kelas malam sampai jam 10, belum lagi aku harus les tambahan sampai maksimal jam 1 malam. Ahh, aku bisa gila lama-lama”

“Sebenarnya kamar mandi di mana? Kenapa terasa jauh sekali?” gumam Seohyun lagi sambil celingukan. Sesaat kemudian ia berdiri dan bersender di tikungan yang menghubungkan kelas 11D dengan 11C, di seberang kelas 11C adalah di mana toilet yang dicarinya berada. Tetapi sayangnya rasa sakit yang menggerayai perutnya seakan menahannya untuk beranjak.

Di tikungan itu Seohyun membulatkan matanya mendengarkan suara seseorang dari balik dinding mengalun lembut.

(Kyuhyun – Puff The Magic Dragon)

Puff, the magic dragon lived by the sea

And frolicked in the autumn mist in a land called Honah Lee,

Little Jackie Paper loved that rascal Puff,

And brought him strings and sealing wax and other fancy stuff. Oh

Puff, the magic dragon lived by the sea

And frolicked in the autumn mist in a land called Honah Lee,

Puff, the magic dragon lived by the sea

…………..

Dua menit lebih berlalu sementara Seohyun masih mendengarkan suara seseorang yang sebenarnya Kyuhyun itu dari balik dinding.

“Sudah selesai?” Seohyun menepuk pipinya sendiri. “Apa yang kau pikirkan? Tujuan utamamu tadi toilet, Seo Joohyun” ujarnya pada diri sendiri lagi, lalu mulai melangkah meninggalkan tikungan itu karena perutnya sudah tidak terlalu sakit.

.

.

.

.

.

Di kelas Kyuhyun, semua anak baik namja maupun yeoja memusatkan pandangannya pada Kyuhyun yang sedang menuntaskan bait terakhir lagu itu.

“Puff, the magic dragon~”

“Aaaaaa!” pekikan serta tepuk tangan terdengar kencang di kelas 11C, semua anak di sana memuji kehebatan Kyuhyun dalam bernyanyi.

“Ah, neomu daebak”

“Bagaimana dia bisa mendapat suara sebagus itu”

“Dia menyanyikannya dengan suara yang lembut sekali. Hah, ya ampun”

Kyuhyun tersenyum menanggapi pujian semua temannya. “Haha, gomawo”. “Bukankah aku memang selalu bernyanyi dengan lembut, eoh?” kata Kyuhyun percaya diri.

“Cih apa-apaan itu. apa kau sedang menaruh hati pada seseorang, eoh?”

Kyuhyun yang sedang menggeser kursi untuk didudukinya itu menoleh. “Menurutmu?” tanyanya.

Sejenak namja yang duduk di sebelah Kyuhyun memperhatikan mimik wajah Kyuhyun. “Tidak, sepertinya tidak.”

“Nah, kan”

Kyuhyun menarik kursinya lagi, lalu menoleh ke kiri untuk menyibak poni mangkuknya. Deg. Kyuhyun yang semula tertawa bersama temannya itu kini diam. Pandangannya terfokus pada seorang yeoja yang entah datang dari mana dan dengan langkah terseok ia melangkah menuju toilet yang tinggal beberapa langkah lagi tapi terlihat sulit bagi yeoja itu. Melihat yeoja yang terseok seperti menahan sakit itu membuat Kyuhyun ingin pergi ke sana dan menolongnya.

Eh, tunggu, pergi ke sana dan menolongnya… yeoja yang tidak ia kenal?! Astaga, itu bukan gaya Kyuhyun.

Secara tidak sengaja Kyuhyun melihat nametag yang dipasang di blazer yeoja itu. dari jarak yang lumayan jauh Kyuhyun berusaha membaca nama yang tertulis di papan kecil itu.

“Seo.. Joo.. Hyun? Seo Joohyun?!”

PLETAK!

Bibir Kyuhyun yang tadinya terkatup sempurna baru saja mengeluarkan erangan ketika sebuah penghapus papan tulis menabrak kepalanya. Tanpa menoleh sedikitpun ia sudah tahu siapa yang melemparnya tadi.

“’Mianhae, songsaenim” ujar Kyuhyun lalu duduk lagi. Ia bersyukur karena sebelumnya tadi ia hanya menggumam, jadi ia tidak menarik perhatian teman-temannya.

Seo Joohyun.. Seohyun.. yeoja yang menjadi bahan pembicaraan namja-namja di sekolah, yeoja yang katanya memiliki otak encer dan bakat yang keren… yeoja yang membuatnya dikatai punya penyakit kelainan oleh teman sebayanya karena tidak ikut mengejar Seohyun yang sudah seperti trend terkini di sekolah ini.

“Seo Joohyun.. apakah aku harus mencari tahu tentang dirinya?”

.

.

.

.

.

.

.

TBC

 

 

~Preview Chapter 2~

“Aku kedinginan.. ya ampun cuacanya benar-benar”

“Biar kumasukkan tanganmu ke sakuku”

“Tidak usah, gwanchanayo nae—“

“Hei, kenapa hanya Seohyun? Aku juga mau”

.

.

“Annyeong haseyo, joneun Seo Joohyun ibnida. Sepertinya sekolah kita sama”

“Mau berbagi earphone?”

“Nde? Kamsahabnida”

“Awas!”

CKIIIITTT

“Ah, omo! Sesange!”

.

.

“Cho Kyuhyun.. Kyuhyun-ah”

“Eonje…Kapan aku bisa mendapatkanmu?”

 

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s