First Love 2

Author : billachan

Genre: Romance, comedy, fantasy, school life

Casts: Seo Joohyun, Cho Kyuhyun, etc

Type: Chapter

Rate: Umm.. PG 13

Disclaimer: ff ini murni dari otak author, jika ada yang sama itu hanya kebetulan

.

.

.

.

.

.

.

.

Happy reading ^^

.

.

.

.

.

First Love

“Aku menyukaimu, orang lain menyukamu, dan ada orang yang menyukaiku. Lalu… siapa yang kau sukai?”

.

.

.

AUTHOR POV

Sudah berjam-jam dilewati siswa-siswi SM Senior High School untuk belajar dan sekarang jam 14.00, waktunya makan siang.

TENG.. TENG..

Bel istirahat makan siang menggema di seantero sekolah, membuat ratusan siswa berbondong-bondong keluar dari kelas untuk menuju kantin yang mewah dan dipenuhi berbagai macam makanan.

Begitu pula dengan Seohyun dan Yoona yang ikut berlari walaupun tetap bergandengan. Karena olahraga Yoona lebih bagus dari Seohyun, otomatis ia ada di depan Seohyun.

“Yoona, chamkkaman!”

“Anni!”

Keduanya, Seohyun dan Yoona terus berebut posisi siapa yang pertama dan tercepat. Terkadang mereka jalan bersama, terkadang Seohyun yang di depan, terkadang Yoona yang di belakang. Benar-benar childish.

Peperangan antara Seohyun dan Yoona berhenti ketika mereka berdua sama-sama duduk dan meletakkan makanan mereka di meja dengan waktu yang sama. Keringat sebesar biji jagung sudah menetes di mana-mana, beberapa butir nasi jatuh ke meja, tapi Seohyun dan Yoona masih bisa tertawa di sela-sela nafasnya yang terengah.

“Kita berdua menang ya, haha” kata Yoona lalu menyambar susu coklat dinginnya.

“Ne. Seperti biasa” kata Seohyun, terkikik geli dengan tingkah lakunya sendiri.

Di barisan belakang Yoona yang berhadapan dengan Seohyun, ada yang sedang memperhatikan mereka berdua. Tepatnya Seohyun yang sedang diperhatikan seorang namja, Kyuhyun. Pandangannya benar-benar datar dan mengerikan bagi seorang namja yang sedang memperhatikan seseorang.

“Hei, setelah ini kan kita pulang, kau jangan makan terlalu banyak” kata Yoona disela-sela kegiatan makannya. Makanan yang belum selesai dikunyah masih berkumpul di mulut Yoona dan membuat Seohyun jijik. Huh, untung saja makanan itu tidak muncrat saat Yoona bicara tadi.

“Kau yang seharusnya makan sedikit. Memangnya kita pulang siang? Tidak ada kelas malam? jeongmal?” tanya Seohyun setelah Yoona menelan semua makanannya.

“Ne, aku melihatnya di papan pengumuman sekolah. Kau tidak lihat?”

“Anni, eobseo”

“Yak, kau benar-benar tidak jeli, Seohyun”

Waktu itu namja-namja yang sudah selesai makan di sebelah meja Seohyun berdiri, membersihkan noda di bajunya, lalu saling mengobrol bersama.

“Setelah ini kita pulang, kan?”

“Ne, aku bisa menyelesaikan prku tepat waktu haha”

“Sampai rumah nanti aku mau langsung tidur saja”

Seohyun yang melihat kejadian itu barusan diam, menutup mulutnya dengan sebelah tangannya takut-takut. “Omo” . “Yoongie, apa mereka mungkin mendengarku?” tanya Seohyun sambil berbisik. Ia malu sekali.

“Anni, eobseo” Seohyun mendengus kesal gayanya ditiru Yoona.

“Kau ini sahabat macam apa eo, merecokiku di pagi hari, mengabaikanku saat sakit perut, dan sekarang menggodaku padahal aku sedang merasa malu. Dasar menyebalkan” hardik Seohyun kesal. Ia menyelesaikan suapan terakhirnya, lalu pergi meninggalkan Yoona.

“Hyunnie-a, chamkkaman!”

Oke, penilaian orang-orang tentang Seohyun yang pendiam sepertinya mengalami sedikit kesalahan.

 

***

 

Bel sekolah sudah berbunyi kira-kira 10 menit yang lalu dan kelas-kelas pun sudah berangsur sepi. Beberapa anak masih terlihat melakukan aktivitas mereka masing-masing sambil menunggu jemputan di depan lapangan. Lain halnya dengan Seohyun dan Yoona yang masih tertawa bersama di koridor. Entah apa saja yang mereka bicarakan, tapi tawa mereka pecah di koridor yang sudah sepi itu.

Yoona yang tadi masih asik bercanda mengentikan langkahnya, membuat Seohyun jiga ikut berhenti. “Hey, coba kau lihat mading ini” katanya.

Seohyun jadi terdiam melihat mading. Matanya tertuju pada secarik kertas putih berukuran lumayan besar tertempel di sana. Tulisan di kertas itu sangat jelas menunjukkan kalau setelah makan siang siswa kelas 10 dan 11 harus langsung pulang setelah makan siang karena kelas 12 sedang menyiapkan latihan untuk ujian nasional beberapa bulan lagi. Astaga, Seohyun malu sekali. Ia baru ingat tadi pagi ia langsung menuju ke kelasnya setelah tiba karena takut terlambat lalu dicegat seorang guru. Aish benar-benar..

“Yak, aku benar kan ada pengumuman di mading. Apa tadi pagi kau tidak melihatnya?” tanya Yoona, menatap Seohyun yang diam tak bergeming di sebelahnya.

Untuk beberapa detik Yoona dan Seohyun terdiam. Namun kedua yeoja itu langsung memekik ketika merasa bahunya disentuh.

“Ah, mianhaeyo. Apa aku mengejutkan kalian?” tanya seorang namja setelah Seohyun dan Yoona membalik.

Deg! Seohyun mematung. Tatapannya lurus ke arah namja di depannya. Namja dengan sneakers unisex model terbaru yang Seohyun idamkan beberapa hari terakhir, jeans biru tua membalut kakinya yang langsing, juga kaus putih polos dengan luaran jaket biru tua. Benar-benar…

“Emm… permisi, nona?” namja itu melambaikan tangannya di depan wajah Seohyun, “Apakah ada sisa nasi di wajahku?” tanya namja itu setelah Seohyun dan Yoona mengembalikan fokusnya ke dunia nyata.

Seohyun dan Yoona menggeleng bersamaan, membuat helaian rambut mereka yang tergerai menari-nari di udara. “Tidak,”

“Ada upil di hidungku?”

“Tidak,”

“Ada uban di rambutku?”

“Tidak,”

“Ada jerawat di pipiku?”

“Tidak,”

“Lalu?” namja itu bertanya dengan nada polos sambil mengusap wajah dan membenarkan tatanan rambutnya.

“Lalu apa?” bukannya menjawab, Seohyun dan Yoona bertanya balik dengan wajah yang sama polosnya.

“Kenapa kalian menatapku seperti itu?”

Suasana mendadak hening. Hanya bunyi nyamuk yang beterbangan di sekitar koridor yang terdengar.

Oh, apakah hal ini perlu diperjelas? Perempuan yang memandang lawan jenisnya dengan tatapan tidak biasa… adakah yang bisa mendeskripsikan apa yang sedang terjadi di sini?

“Tidak apa-apa. Kami punya mata, apa kami tidak boleh melihatmu, eoh?” Yoona tiba-tiba angkat suara, dan langsung disambut anggukan setuju dari Seohyun, membuat topi kuning yang dikenakannya bergerak naik-turun.

“Tsk, terserah kau saja. Nyolot sekali,” jawab namja itu dengan nada jenaka. Tanpa sadar dia sudah membangkitkan jiwa yang lama terpendam dalam tubuh Yoona. Uhoh, sepertinya ada yang harus berhati-hati.

“Nyolot? Apa kau bilang?!” suara cempreng Yoona menggema di koridor yang sepi. Seohyun langsung menarik tangan Yoona yang hampir melancarkan serangannya. Kerja bagus, Seohyun. Kau melakukannya di saat yang tepat.

“Yak, Yoona. Sudahlah,” kata Seohyun menengahi.

Yoona mendengus. “Dasar namja barbar,” ejeknya, menjulurkan lidah kemudian berlari. Seohyun yang masih mengaitkan lengannya dengan lengan Yoona, otomatis ikut terbawa lari juga.

Langkah besar-besar Yoona sangat mengerikan, sampai Seohyun hampir saja menabrak tiang. Hah, untung saja Seohyun orang baik. Untung saja Yoona sahabatnya. Kalau bukan karena dua alasan itu, Seohyun sudah mengutuk Yoona jadi batu!

“Ya! Choding!” ejek namja itu –pada Yoona, tentu saja— sambil berteriak. Ia masih belum selesai berbicara, tapi suaranya tergantikan dengan gema karena jarak yang sudah jauh.

“Yoona, berhenti! Ya!” rengek Seohyun menggeret-geret lengan Yoona dengan nafas terengah. Mereka memilih duduk di salah satu bangku taman.

Seohyun yang paru-parunya terasa hampir meledak, menyeka keringat yang mengalir di dahi dan pelipisnya. Penampilannya berantakan. Seragam lecek, dasi miring, rambut lepek, dan kupluk kuning yang hampir copot membuat Seohyun terlihat… ah, tolong simpulkan sendiri. Bagaimana dengan Yoona? Dia tidak jauh beda dengan Seohyun. Bahkan bisa dibilang sedikit lebih buruk.

“Baik. Tarik nafas perlahan..” Yoona menarik nafasnya, Seohyun mengikuti. “Keluarkan..” Yoona melakukan, Seohyun mengikuti lagi. Kegiatan itu terus terjadi berulang kali sampai akhirnya..

“Apa kita akan melakukan ini sampai pipiku kempot?” semprot Seohyun kesal. Pasalnya, kalau dikira-kira mereka sudah melakukan gerakan yang sama selama 10 menit. Ini menjengkelkan dan membuang waktu, bagi Seohyun. Karena Seohyun adalah tipe orang yang suka memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mengerjakan sesuatu, sementara Yoona lebih suka bermain-main sambil mengerjakan sesuatu. Sedikit berlawanan memang.

“Aku hanya ingin mengatur nafas. Apa salah? Lagipula aku kan membantumu,”

“Tapi kenapa selama itu? Kita bisa melakukan ini di halte bis juga,”

“Siapa yang menyuruhku berhenti di sini?”

“Siapa yang menyuruhmu menuruti kata-kataku?”

Perdebatan mulut yang sengit terjadi di antara Seohyun dan Yoona, dengan suara yang semakin lama semakin meninggi. Tapi bukan meninggi seperti orang marah pada umumnya, melainkan suara cempreng. Ya, hal ini sering terjadi. Mereka hanya berdebat pura-pura tanpa alasan yang jelas, kemudian mengobrol lagi seperti biasa. Seolah perdebatan sengit yang terjadi sebelumnya tidak pernah ada.

“Huft, baiklah. Aku kalah,” aku Yoona. Kilat-kilat kemenangan langsung memancar jelas dari mata cerah Seohyun.

“Kau mengerikan, Seohyun,” ejek Yoona kesal.

“Haha, yang penting aku menang,”

“Oke, oke,” . “Hei, apa menurutmu namja tadi menarik?” tanya Yoona langsung mengalihkan topik pembicaraan.

“Menurutku.. ya. Tapi, Yoona, kau hampir selalu mengatakan kalimat yang sama setelah berbicara dengan namja,” kata Seohyun mengingatkan.

“Tsk. Terlalu banyak namja yang dekat denganku,” dengus Yoona.

“Itu karena kau selalu bergaul dengan namja. Teman yeojamu saja bisa kuhitung dengan jari. Sedangkan sahabat yeoja?” Seohyun menjeda kalimatnya sejenak, mendecak. “Cih, hanya Seo Joohyun seorang yang tahan jadi sahabatmu.”

“Oh, jangan berlebihan. Walaupun teman namjaku banyak, aku orang yang setia,” bela Yoona, menempelkan kepalanya pada sandaran kursi.

“Hanya seorang munafik yang mengatakan hal itu sebelum ada bukti,”

“Kurang ajar,” Yoona tiba-tiba bangun dari kursinya, membuat Seohyun takut.

Sesaat kemudian, Yoona duduk kembali. Ia menatap Seohyun lekat-lekat seolah ingin mengambil sesuatu yang berharga dari diri Seohyun. “Ngomong-ngomong, siapa yang kau sukai, Seo Joohyun?” tanya Yoona dengan tatapan menggoda.

Untuk sesaat, Seohyun membulatkan matanya. Oh, ini sulit. Seo Joohyun memang sudah sering mendapat nilai sepuluh di pelajaran ilmu pasti maupun penalaran. Tapi kalau untuk masalah perasaan, dirinya masih berada di tingkat lebih rendah dari pemula.

“Orang yang kusukai?” ulang Seohyun sambil menunjuk dirinya sendiri, memastikan pertanyaan Yoona ditujukan untuknya dan Yoona langsung mengangguk.

“Orang itu…”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Orang yang kusukai….”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Dia..”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Seohyun, katakan saja! Aku ini sahabatmu, aku penjaga rahasia yang baik,”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Tapi..” Seohyun meragukan ucapan Yoona, mengingat anak itu memiliki teman namja di sekelilingnya membuat Seohyun ragu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Ah, baiklah,”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Orang yang kusukai adalah..”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BRUUMM CKIIT

Seohyun refleks menghentikan ucapannya karena melihat motor sport yang permukaannya berkilauan mendarat, bukan, maksudnya mengerem di depan bangku taman yang ia dan Yoona duduki.

Namja yang berseragam sama seperti mereka itu turun dari kursi motor, melepas helmnya.

“Hei, nona-nona,” sapanya.

“Seunggi sunbae!” sahut Yoona cerah. Tentu saja Yoona senang, karena Lee Seung Gi, kakak kelas ini adalah teman dekat Yoona.

“Hei, Yoona,”

“Annyeong, sunbae,” sapa Seohyun sopan sambil menunduk sedikit.

“Ah, ne. Annyeong,” Kenapa Seunggi seperti terkejut membalas sapaan Seohyun? Apa tadinya ia tidak melihat yeoja berkupluk kuning secerah sinar matahari pagi ini? Kalau memang begitu, Seohyun harus diberi penghargaan sebagai role model obat nyamuk yang sempurna.

“Baru pulang dari pelajaran tambahan?” tanya Yoona antusias.

“Ya, begitulah. Karena besok ada penempatan kelas, jadi aku harus belajar keras,” jawab Seunggi. Senyum manis mengembang bersamaan dengan setiap kata yang terlontar dari bibirnya.

“Hwaiting, sunbae!”

“Ne, hwaiting!”

Seohyun terdiam, tangannya mengepal ingin melakukan gerakan hwaiting yang mereka berdua –Yoona dan Seunggi—lakukan. Tapi bagaimana? Seohyun tidak mengenal namja itu dengan baik. Ia bukan anak yang mudah bergaul dan sekalinya ikut-ikutan temannya yang lain, ia akan dikatai sok kenal. Seohyun bingung apa hal benar yang harus dilakukannya untuk bergabung sampai dirinya tidak menyadari dua sejoli di dekatnya sedang bercanda ria, melupakannya.

“Mau pulang bersama?” tanya Seunggi, menyodorkan sebuah helm putih yang ia simpan di bagasinya. Wah, terencana sekali sampai ada helm di bagasi.

Melihat Yoona yang berdiri, Seohyun ikut berdiri. Namun tatapan kedua manusia ini langsung mengintimidasi dirinya. Ah, Seohyun tahu maksudnya.

“Emm, Seohyun-ssi, aku bawa motor sport, jadi hanya cukup un—“

“Ya, tidak apa-apa, sunbae. Aku bisa naik bis. Jagalah Yoona baik-baik,” potong Seohyun.

“Gwenchanna?” tanya Yoona dengan kekhawatiran di wajahnya. Hei, orang awam pun tahu pertanyaan ini hanya basa-basi. Memangnya kalau Seohyun bilang ia mau ikut ia harus duduk di mana? Stang?

“Ne, gwenchanna, Yoong. Hati-hati,” jawab Seohyun tersenyum. Bagaimanapun memang itu satu-satunya jawaban yang bisa diberikannya dalam situasi seperti sekarang ini.

Seohyun melambaikan tangannya kemudian berlari ke halte bis. Berlari lagi, tapi sekarang sendirian.

Seohyun tidak cemburu, sungguh demi roti gosong buatan sepupunya yang masih balita, atau apapun. Seohyun hanya tidak mau terlihat menyedihkan. Menjadi obat nyamuk itu menyedihkan, asal kau tahu.

Beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya Seohyun sampai di halte bis. Rasa syukur langsung diucapkannya berkali-kali dalam hati karena halte sepi dan bis yang terlihat lengang langsung menyapanya di depan mata.

Seohyun masuk ke bis, dan melihat salah satu tempat duduk kosong di baris tengah yang dekat jendela, dengan sinar matahari sore menelusup di sela-selanya menarik perhatiannya.

Tidak menunggu waktu lama Seohyun langsung menduduki di kursi itu. Menghempaskan tulang-tulang di tubuhnya yang rasanya hampir rontok rata dengan tanah. Astaga, jangan sampai. Udara sejuk dari AC dan sinar matahari sore yang menghujaninya sedikit-sedikit membuat perasaan Seohyun tenang. Namun ketenangannya harus terusik ketika Seohyun merasakan ada getaran di sebelah kirinya, menandakan ada seseorang yang menduduki kursi di sampingnya.

Seohyun langsung menoleh, membulatkan mata melihat seorang siswa namja ber-blazer abu rokok sama sepertinya sedang merogoh isi tasnya.

Merasa diperhatikan, namja itu menoleh ke arah Seohyun. Membuat Seohyun yang sedang melihatnya langsung membuang muka.

“Annyeong,” suara bass mengalun begitu saja, menggoda Seohyun untuk menelengkan wajahnya pada si pemilik suara.

Beberapa detik keheningan menyapa, Seohyun memilih untuk menoleh. Ia dapat melihat dengan jelas siapa namja ber-blazer abu rokok di sebelahnya.

“Annyeong haseyo, joneun Seo Joohyun ibnida. Sepertinya sekolah kita sama,” jawab Seohyun ramah.

“Ne. Cho Kyuhyun ibnida. Kau si yeoja populer itu,” jawab namja bernama Kyuhyun, mengundang tawa Seohyun untuk keluar.

“Haha, Kyuhyun-ssi. Kau…” pemilik suara yang bagus itu “..juga termasuk namja populer di sekolah,” jawab Seohyun gugup. Apa-apaan? Kenapa otaknya tiba-tiba memproses kata-kata yang tidak berguna? Untung saja Seohyun bukan orang yang cukup teledor untuk mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan.

“Mau berbagi earphone?” tanya Kyuhyun, menyodorkan salah satu earphonenya kepada Seohyun.

“Nde? Kamsahabnida,” terima Seohyun.

Suasana di sekitar mereka kembali hening. Hanya earphone yang menyumbat telinga keduanya lah yang menjadi penghubung. Entah apa lagu yang sedang diputar, yang jelas Seohyun dan Kyuhyun terlihat menikmatinya.

“Awas!”

CKIIIITTT

Bis tiba-tiba mengerem mendadak sampai penumpangnya terjungkal ke depan.

“Ah, omo! Sesange!”

Seohyun berteriak kaget. Reflek tangannya mencengkeram benda yang paling dekat dengannya, dan set! Benda itu digenggamnya dengan erat. Eh, tapi kenapa benda yang sedang Seohyun genggam juga menggenggam tangannya erat dan rasanya lembab? Jangan-jangan..

Seohyun menoleh, menemukan Kyuhyun yang sedang memandangnya lekat. Tepat ke arah bola matanya.

(BTS-24/7=Heaven)

Meeting you on Sunday, waited for this Sunday
(How we do how we do how we do uh yeah)
Time, please go faster
Meeting you on Sunday, only imagined this Sunday
I don’t think I can sleep at all today

Suasana di dalam bis yang riuh rendah karena kepanikan orang banyak seakan sirna sesaat. Suara orang-orang yang saling bersahutan dikalahkan oleh kelamnya mata Kyuhyun. Seohyun tidak tahu apa yang terjadi. Ia sering beberapa kali membacanya di novel; mungkinkah ini yang dinamakan tenggelam dalam mata seseorang?

‘Ngiiing’ bunyi toa yang begitu nyaring menyadarkan Kyuhyun. Ia segera melepas tangannya dari Seohyun dan membuang muka. Seohyun pun melakukan hal serupa, merasa malu dengan kelakuannya.

“Maaf, tuan-tuan nyonya-nyonya, dan juga para siswa-siswi penumpang yang kami hormati. Dikarenakan pecah ban, bis ini tidak bisa beroperasi sampai menunggu teknisi datang dan membenarkannya. Oleh karena itu, penumpang harap segera turun dari bis ini dan menuju halte terdekat yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari sini. Sekian dan terima kasih,”

Mendengar pemberitahuan itu, Seohyun berdiri. Ia membungkuk sedikit pada Kyuhyun sebelum turun dari bis.

Di antara kerumunan orang-orang yang sedang menuju ke halte bis terdekat, Seohyun menghentikan langkahnya. Kalau Seohyun naik bis itu lagi, otomatis Seohyun akan bertemu dengan Kyuhyun lagi. Otomatis Kyuhyun akan semakin mengingatnya sebagai gadis aneh, gadis tidak sopan yang berani sekali menyentuh tangan orang yang baru dikenalnya.

“Ah, shireo!” kata Seohyun, memberi puncak pada konflik batinnya.

Meskipun kemungkinan bertemu di sekolah sangat besar, tidak apa-apa asalkan sekarang Seohyun tidak bertemu dengan namja itu lagi. Seohyun masih malu, tentu saja. Rasa malu itu terpapar jelas di pipi putihnya yang semerah tomat.

“Lebih baik aku jalan saja ke rumahku. Dekat, kok. Hanya satu setengah kilometer. Aku tidak akan lelah,” kata Seohyun, memotivasi dirinya sendiri.

Dengan langkah besar-besar, pipi digembungkan, dan map merah di pelukan, Seohyun mulai menjauhi bis yang sedang direparasi itu.

Secara kebetulan, Kyuhyun yang sedang berjalan santai dengan kedua earphone menyumbat telinganya melihat Seohyun berjalan melewatinya begitu saja.

 

***

 

Seorang yeoja duduk di bangku penonton yang menghadap langsung ke kolam renang. Sebelah tangannya terangkat dan jarinya teracung, seperti sedang melukis rasi bintang di atas kanvas gelap yang dinamakan langit malam. Senandung lagu menyedihkan terus dinyanyikannnya, sampai akhirnya helaan nafaslah yang mengakhiri semuanya. Tangannya turun, helaan nafas tadi seakan menggambarkan ia puas dengan rasi bintang bertuliskan T+K yang baru saja diukirnya di atas langit bertabur bintang.

“Cho Kyuhyun.. Kyuhyun-ah”

“Eonje…Kapan aku bisa mendapatkanmu?”

.

.

.

.

.

TBC

One thought on “First Love 2

  1. School life~ si yeoja populer dan si namja populer. Genre yg Cukup maenstream sih. But it’s ok lahh. Siapa kira kira orang dikalimat terakhir itu.? yeoja pasti. Jelas~ orang yg maunya chokyu. Next chap ditunggu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s