How to Goodbye 2

cover-howto5

 

 

 

Author             : billachan

Title                 : How to Goodbye

Genre              : Romance, sad, (maybe) angst

Casts               : Seo Joohyun, Cho Kyuhyun, Choi Minho

Type                : Chapter

Rate                 : Umm.. PG 13?

Disclaimer       : ff ini murni dari otak author, jika ada yang sama itu hanya kebetulan

.

.

.

.

.

.

.

Happy Reading ^^

.

.

.

.

.

 

AUTHOR POV

 

Seohyun melangkahkan kakinya di trotoar khusus pejalan kaki perlahan.

Selangkah…

dua langkah..

tiga langkah..

Langkah yang dibuatnya begitu lambat dan tidak bersemangat. Bahkan jika siput kecil yang tidak jauh dari Seohyun mengikuti balapan bersamanya, siput itulah yang menang.

Seohyun begini bukan tanpa alasan, tapi karena… ah tidak, dia memang melakukannya tanpa alasan yang jelas. Sejak beberapa hari yang lalu tubuh Seohyun terasa mudah lemas, seakan tenaganya tersedot secara tiba-tiba padahal sebelumnya ia sangat bersemangat. Seohyun sudah dikenal dengan anak yang lemah lembut seperti tidak bertenaga. Ya, Seohyun memang sudah begitu dari lahir.. tapi bukan berarti ia benar-benar tidak memiliki tenaga. Seohyun menyimpannya, dan tenaga itu hanya digunakan untuk saat-saat genting (yang sebenarnya tidak selalu ada). Dan sekarang, rasanya ia sama sekali tidak memiliki tenaga simpanan jika saat genting itu datang.

Seperti saat ini, saat Hyoyeon yang datang tiba-tiba dan langsung mencengkeram pundaknya sambil meneriakkan, “HAI!” di depan telinganya seperti tidak berpengaruh apa-apa baginya.

Seohyun, orang yang dikagetkan itu hanya menoleh sedikit. Lalu berkata singkat, “Ah.. aku terkejut.” Benar-benar kecil dan aneh, seperti anak tikus yang terjepit pintu.

Hyoyeon yang melihatnya mengerucutkan bibir, heran. Demi Tuhan, ini masih pagi, masih cerah… burung-burung saja sedang bersiul dan mencarikan makanan untuk anak-anaknya tapi yeoja di depannya yang mirip Putri Solo ini malah loyo, seperti balon yang kalau ditiup sedikit saja sudah langsung terbang. Dan ya.. karena Hyoyeon menyayangi Seohyun, jadinya gadis lambat itu tidak mendapat tiupan mautnya dan tidak bernasib sama dengan balon-balon di luar sana. Kau harus bersyukur, Seohyun.

 

“Ada apa?” tanya Hyoyeon sambil berjalan pelan. Seohyun mengikuti di sebelahnya.

 

“Tidak ada,” jawab Seohyun lesu disertai gelengan singkat.

 

“Kau sakit hati?”

 

“Tidak,”

 

“Pusing?”

 

“Tidak,”

 

“Sakit perut?”

 

“Tidak,”

 

“Atau kau sedang..” ada jeda sebentar, “PMS?”

 

Seohyun mendelik. “TIDAK, Hyo unni. Tidak semuanya dan berhentilah menanyaiku hal-hal seperti itu.” kesalnya. Rasa aneh di tubuhnya saat ini membuat mood Seohyun juga jadi tidak bagus. Ia bahkan menaikkan suaranya hanya karena masalah sepele.

 

“Ba-baiklah..” gagap Hyoyeon. Seketika ia takut dengan Seohyun yang berubah jadi ‘si pemarah’. “Lalu, kau kenapa?” tanyanya prihatin pada sosok lembek itu.

 

Seohyun menghela nafasnya. “Aku.. hanya..” ia menoleh pada Hyoyeon, menunjukkan wajahnya yang menyedihkan. “Lelah,” lanjutnya dengan nada suara yang terdengar sangat meyakinkan.

 

“Eoh? Kenapa?”

 

Seohyun menggeleng. “Tidak tahu,” jawabnya putus asa. “Hyo..”

 

“Hm?”

 

“Gendong aku,” pinta Seohyun dengan wajah memelas, tubuh yang sedikit dibungkukkan, dan kedua tangan terjulur ke depan. Bagi orang-orang yang melihatnya mungkin Seohyun terlihat imut, tapi bagi Hyoyeon yang ada di depannya saat ini adalah vampir yang akan mencekiknya karena 3 tahun tidak mendapat mangsa. Eung…

 

“Kau gila?!”

 

 

***

 

 

Kelas sudah usai, matahari semakin turun, juga mahasiswa dan mahasiswi yang bercengkrama dan tertawa riang bersama teman-temannya leluasa menandakan mereka sangat bahagia kelas sudah usai. Tapi Seohyun, ia tahu kelas yang sebenarnya belum usai karena saat ia akan meninggalkan pintu, suara khas Mr. Kim menggagalkan semuanya. “Seo Joohyun, berhenti di situ,”

Seperti yang diperintahkan, Seohyun benar-benar berhenti di ambang pintu seperti mobil yang direm mendadak, dengan posisi satu kaki menggantung di udara (dalam otaknya ia sedang bersiap untuk meretakkan tanah).

Langkah kaki Mr. Kim yang dibalut dengat sepatu hitam mengkilat yang lancip dan mahal itu terdengar semakin dekat, pertanda maut sudah dekat dengannya. Tap… tap.. tap… hingga akhirnya langkah itu berhenti dan suaranyalah yang menggantikan. “Kau harus ikut aku ke ruang musik,”

 

‘Ah, penderitaanmu dimulai dari sekarang, Seohyun..’ , batinnya sambil memejamkan mata.

.

.

.

.

Sekitar sepuluh menit berjalan membuntuti Mr. Kim dari ruang kelas ke ruang musik, akhirnya Seohyun sampai di ruangan yang dituju. Sebenarnya Seohyun sudah hafal betul dengan ruangan yang menjadi favoritnya di kampus selain kantin ini, hanya saja karena ia sedang berjalan dengan dosen, tidak sopan jika ia harus mendahului atau berjalan beriringan karena ia tidak terbiasa begitu. Setidaknya walaupun terkadang Mr. Kim aneh dan menyebalkan, Seohyun harus tetap menghormatinya, kan?

Mr. Kim membuka pintu kayu berwarna putih itu pelan-pelan, meninggalkan deritan kayu yang khas dan menenangkan telinga (bagi Mr. Kim, sedangkan bagi Seohyun bunyi itu membuatnya ngilu setengah mati dan ingin segera pergi dari sana).

“Masuklah..” ujar Mr. Kim dan Seohyun hanya mengangguk patuh. Ia membuntuti Mr. Kim lagi sampai ke dalam. Seohyun menoleh ke kiri ketika suara bass yang sedikit familiar terdengar.

“Oh, akhirnya kalian datang,” kata seorang namja yang duduk di bagian kiri ruangan dengan gitar dikalungkan ke leher dan ujung kukunya yang masih menempel pada senar gitar.

Seohyun tersentak ketika memperhatikan wajah dan gitar itu bergantian, menyadari kenapa ia bisa merasa pernah melihatnya sebelumnya. Namja itu.. gitar itu.. dia yang Seohyun lihat di ayunan dekat rumahnya menyanyikan lagu Give Love. Kenapa dia bisa ada di sini?

“Maaf membuatmu menunggu lama, Kyuhyun,” kata Mr. Kim, berhasil membangkitkan Seohyun dari lamunannya. “Dan jangan pernah menggantungkan gitarmu begitu. Nanti kalau talinya lepas gitarmu akan jatuh dan rusak..” nasihat Mr. Kim disertai guyonan membuat namja yang bernama Kyuhyun itu tertawa kecil, dan Seohyun pun terpaksa harus tersenyum agar ia terlihat seperti mendengarkan obrolan mereka yang semkin berlanjut. Padahal otaknya sekarang kosong melompong.

“Baiklah, tidak usah banyak bicara lagi lebih baik kita langsung mulai latihan saja, ya,” kata Mr. Kim setelah mereka menghabiskan hampir 20 menit untuk mengobrol, tenggelam dalam dunia mereka berdua dan mengabaikan Seohyun seperti dia adalah obat nyamuk yang keadaannya hanya dibutuhkan untuk mengusir pengganggu agar mereka bisa berdua lebih lama. Ah.. ayolah, Seohyun juga butuh pulang. Air hangat.. sofa yang empuk.. ranjang dengan seprei baru.. sisa ubi rebusnya kemarin sore.. seakan sudah merengek untuk mengajaknya pulang dan menikmati mereka semua. Sabarlah, hanya tinggal menunggu beberapa waktu lagi. ya, beberapa.

“Ya, tidak usah ditunda lagi. Waktu adalah segalanya, kan,”

 

Cih..

 

Seohyun ingin sekali menyembur air mineralnya di depan wajah namja itu ketika ia berkata sok bijak seperti itu. Padahal namja bernama Kyuhyun itu sangat menikmati waktu mengobrolnya bersama Mr. Kim, tapi ia mengatakannya seakan ia adalah korban yang waktunya terbuang percuma. Harusnya ‘kan Seohyun yang bilang.

Mr. Kim menggumam kecil, kemudian mengeluarkan beberapa lembar kertas yang tertoreh tinta-tinta hitam di atasnya dari dalam tasnya. Ia memberikan kertas itu masing-masing pada Seohyun dan Kyuhyun. Mereka membaca kertas itu pelan-pelan. Memahami setiap tulisan cakar ayam di sana supaya mereka tidak salah membaca. Ck, ini mamang sungguhan.

“Karena aku sudah membagikan kertas yang berisi not balok dan lirik lagu yang akan kalian nyanyikan, sekarang kita bisa mulai latihan,” ujarnya, kemudian mendudukkan diri tidak jauh dari Seohyun dan Kyuhyun.

“Ambil posisi yang pas, tegakkan tubuh, dan.. hey, Kyuhyun, jangan duduk. Kalian tidak boleh duduk,” ia menjedanya sebentar. “Sekarang, tahan napas 30 detik…”

“60 detik…”

“75 detik…”

 

 

***

 

 

Musik instrumental mengalun lembut di seluruh penjuru ruangan yang dipenuhi dengan kaca di setiap sisinya, memantulkan sosok namja dengan kaos putih yang dibalut jaket hitam, celana coklat gelap, dan sepatu nike keluaran terbaru yang sedang menari mengikuti irama dengan penuh penghayatan. Rambut pendeknya yang disemir coklat gelap mirip celananya itu berkibar mengikuti ke mana tubuhnya bergerak (jujur, walaupun ga mirip tapi waktu bikin ini aku malah bayangin Sehun di history dance practice aaaa >.<).

Dua menit terasa sangat cepat jika dilalui dengan melihat tubuh namja itu yang meliuk-liuk dengan lentur menguasai irama musik. Namja itu mengakhiri gerakannya dengan melompat, membuat hoodie jaketnya secara tidak sengaja bergerak menutupi kepalanya, ia membuka kakinya selebar dua jengkal, kemudian melipat tangan di depan dada. Menyudahi penampilan sempurnanya dengan gerakan yang keren.

Musik instrumental itu sudah selesai, membuat ruangan itu kembali sunyi dan hanya deru nafas memburu yang dikeluarkan namja itulah itu yang terdengar.

Hampir satu menit berselang musik kembali terdengar. Tapi kali ini beatnya lebih cepat dan menantang. Bersamaan dengan yeoja berambut kuning keluar dari sisi kiri ruangan dan berjalan ke bagian tengah dengan penuh gaya. Langkahnya yang besar dan sexy itu disambut dengan baik oleh namja berambut coklat itu.

“Hyoyeon-ah,” ia memanggil nama yeojanya ketika tangan lembut Hyoyeon menangkap tangannya yang terulur.

Hyoyeon tersenyum manis. “Eunhyuk oppa,”

Namja berambut coklat dengan nama Eunhyuk itu memutar tubuh Hyoyeon, kemudian Hyoyeon melepas genggaman tangan Eunhyuk dan mulai menari sendiri.

Lagu ‘Create Your Smart Style’ yang dinyanyikan oleh Exo-K itu sudah mencapai bagian rap Chanyeol yang kedua kalinya, menandakan Hyoyeon dan Eunhyuk sudah hampir selesai menari. Beberapa kali mereka melakukan skinship yang panas, bahkan bibir mereka sampai hampir bersentuhan seperti tarian Hyuna dan Hyunseung di mv ‘Troublemaker’-nya.

‘Yeah..’

High note Baekhyun yang sangat tinggi menjadi penutup lagu itu. Eunhyuk, sekali lagi mengakhiri penampilannya dengan sangat keren dan tentunya, Hyoyeon, juga melakukan yang terbaik sampai rambut kuningnya yang terawat itu mandi keringat dan kusut tak karuan.

Ketika lagu itu benar-benar habis, keduanya ambruk ke lantai dengan nafas terengah. Peluh sebesar biji jagung pun menetes membasahi lantai perlahan-lahan.

“Hyoyeon-ah,” suara Eunhyuk tidak stabil kerena nafas yang belum teratur. Hyoyeon menoleh dan menggumam kecil pada Eunhyuk yang tidak jauh darinya.

“Kau menari dengan sangat baik,” pujinya. Deretan gigi putihnya yang membentuk gummy smile kesukaan Hyoyeon itu terlihat lagi, membuatnya tersenyum tapi sesaat kemudian ia kembali cemberut.

“Kalau begitu, ganti pasangan tarimu,”

“Kau pikir semudah itu?”

“Apa harus aku yang mengatakannya pada kepala sekolah sekalian?!”

“Sssstt..” Eunhyuk mendekati gadisnya yang terlihat emosi itu, menyelipkan anak rambut yang kusut dan lepek ke belakang telinga Hyoyeon. “Kalau aku bisa meminta pergantian posisi semudah itu, aku pasti sudah langsung mengatakannya. Tapi sayangnya aku tidak bisa,” kata Eunhyuk menenangkan.

“Tapi.. aku cemburu. Pasanganmu saat menari nanti juga lebih jago aegyo dariku. Aku..”

“Tidak akan, Hyo,”

“Kau janji?” tatap Hyoyeon lekat pada sosok Eunhyuk yang wajahnya hanya sejengkal dari hidungnya.

“Ne, aku janji,”

 

 

***

 

 

Malam sudah mulai larut. Jam dinding yang tergantung di tengah-tengah ruang musik menunjukkan sekarang sudah pukul 8 malam. Ya, dari jam 6 sore tadi latihan baru selesai sekarang karena Mr. Kim melatihnya dan namja bernama lengkap Cho Kyuhyun itu dengan keras. Seohyun baru tahu ternyata Mr. Kim yang suka membanyol jayus itu bisa juga diam dan bersikap dingin. Suaranya yang tak tertandingi itu juga membuat Seohyun tercengang, jika dosennya itu mau ia bisa saja menjadi didikan SM Entertaiment. Dan ya.. suara Kyuhyun juga tidak buruk. Pantas namja itu dipasangkan dengan Seohyun karena suara mereka memang saling melengkapi.

Saat ini, Seohyun tengah mengemasi barang-barangnya bersiap untuk pulang. Sama seperti Kyuhyun yang sedang memasukkan gitar ke dalam tas khususnya.

Seohyun melirik namja itu dari ekor matanya. Tangannya masih sibuk mengaitkan rit pada tas kecil praktis yang dibawanya kemana-mana itu. Kemudian Seohyun tersentak ketika Kyuhyun tiba-tiba menoleh padanya. Astaga, Seohyun benar-benar terlihat seperti seorang penguntit dan jika ia sedang minum ia pasti sudah menyemburkan minumannya ke segala arah.

Mau tidak mau, Seohyun membungkukkan kepalanya sedikit sambil tersenyum kecil, membalas tatapan Kyuhyun yang terkesan dingin dengan mata gelap nan tajam miliknya. Tanpa berkata apapun Kyuhyun langsung sibuk dengan tasnya lagi.

 

Dingin sekali…

 

Batin Seohyun mengolok-olok namja itu kesal. Seohyun tidak suka dengan namja dingin seperti Kyuhyun.

Niat Seohyun untuk sekedar berpamitan dengan Kyuhyun luntur seketika karena tanggapan tidak menyenangkan yang ia dapatkan tadi. Seohyun memilih langsung keluar dari ruangan itu tanpa sepatah kata yang ia tinggalkan untuk Kyuhyun. Biarkan saja.

Tapi langkah besar yang dibuat Seohyun harus berhenti di udara karena suara di balik punggungnya mengintrupsi dirinya.

“Hey,”

Seohyun menggumam kecil kemudian membalikkan badannya. Ia bisa melihat Kyuhyun menenteng tas gitar di punggung dan berjalan menghampirinya. Namja itu berhenti ketika tubuhnya tinggal bejarak dua langkah dari tubuh Seohyun.

Tangan Kyuhyun yang terulur adalah pemandangan yang pertama kali tertangkap matanya setelah namja itu berada dekat dengannya.

“Ayo kita berkenalan. Kuharap kita bisa menjadi teman baik,” nada bicara Kyuhyun terdengar bersahabat, tapi wajahnya biasa saja. Tidak ada senyum cerah yang terpasang di bibir tebal itu sedikitpun… untuknya.

Seohyun tertawa kecil. “Haruskah aku memperkenalkan diriku lagi?”

“Sepertinya kita sama sekali belum berkenalan.”

 

Oke…

 

Dari sini Seohyun tahu, Kyuhyun memili lidah yang tajam. Meskipun namja itu terlihat seperti pendiam tapi sekalinya Kyuhyun adalah orang yang sulit diajak debat. Dan ini sudah malam. Seohyun tidak ingin terkurung lebih lama di dalam kampusnya yang besar sementara air hangat.. sofa yang empuk.. ranjang dengan seprei baru.. sisa ubi rebusnya kemarin sore.. sudah menunggunya di rumah.

Seohyun menyambut tangan Kyuhyun yang seputih tangannya tapi lebih kekar itu, lalu menggoyangkannya pelan. “Seo Joohyun, panggil saja aku Seohyun,”

Kyuhyun mengannguk seperti dirinya mengerti, kemudian berucap, “Cho Kyuhyun,”

“Ne, senang bertemu denganmu, Kyuhyun-ssi,”

“Senang bertemu denganmu juga, Seohyun-ssi,”

Kemudian mereka tertawa bersama. Tidak, maksudnya, hanya Seohyun yang tersenyum sambil tertawa sedangkan Kyuhyun, namja itu juga tersenyum tapi senyumnya sedikit… miring?

Senyum yang terlihat meremehkan.

 

 

 

***

 

 

Seohyun turun dari bis yang ditumpanginya bersama para penumpang lain. Rumahnya yang sedikit jauh dari tempat pemberhentian bis tadi membuatnya harus jalan kaki sekitar 10 menit. Malam ini angin bertiup lumayan kencang membuat Seohyun merinding karena di samping rasa dingin itu, ia juga merasa takut. Biasanya Seohyun melewati jalanan yang sepi dan gelap ini bersama Hyoyeon mengingat rumah mereka yang tidak terlalu berjauhan dan Seohyun selalu merasa dirinya aman. Ia tidak tahu hari seperti ini akan terjadi. Ya, manusia mana yang tahu bagaimana jalan hidupnya di masa mendatang kecuali peramal? Peramal pun terkadang prediksinya meleset. Semua yang terjadi di dunia ini memang Tuhan yang menentukan. Lagipula…

 

“MIAUU!!”

 

Suara kucing yang menjerit di belakang Seohyun berhasil membangunkannya dari argumen yang dibuatnya sendiri.

“KYAAA!!” bahkan tanpa sebab yang jelas, Seohyun ikut menjerit kemudian membalik badannya dengan gerakan cepat. Penuh kewaspadaan tinggi. Otaknya tiba-tiba memutar siaran berita di televisi tentang kejahatan yang sedang marak terjadi di tempat gelap.

Deg. Seohyun semakin takut. Kepanikan yang menjalar di setiap pori-porinya itu membuatnya berlari kencang dan semakin kencang. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah rumah.. rumahnya yang besar dan hangat..

Tidak perlu waktu lama Seohyun sudah sampai di depan teras rumahnya. Seohyun menekan kode rahasia pintu itu kemudian masuk ke rumahnya dan membanting pintu itu dengan debaman keras.

“Aku pulang!” sapanya dengan nafas terengah.

Punggungnya yang berkeringat itu ia tempelkan di balik pintu. Matanya terpejam untuk meredakan nafasnya yang sudah mulai stabil.

“Seohyun, tarik nafas.. keluarkan,” ujar Seohyun pada dirinya sendiri.

Setelah itu Seohyun melepas sepatu flatnya, menaruh tas yang dibawanya di konter. Kakinya melangkah santai ke dekat jendela bersiap untuk menutupnya. Tapi gerakan tangannya berhenti ketika melihat punggung asing yang dibalut dengan kemeja kotak-kotak putih biru dan celana panjang hitam juga sepatu sneakers yang setahu Seohyun paling mahal di online shop yang diceknya minggu lalu. Tas gitar berwarna hitamnya yang sedikit melorot dibenarkan oleh namja itu dengan menggerakkan punggungnya. Kedua tangannya tetap dimasukkan ke dalam saku celananya dengan gaya cool.

Tunggu.. tas gitar? Apakah itu Kyuhyun? Dan apa yang namja itu lakukan? Kenapa ia seperti habis keluar dari rumah Seohyun?

Seohyun tersenyum kecil, entah mengapa hatinya begitu yakin. “Terima kasih sudah mengantarku, Kyuhyun-ssi,”

 

 

 

TBC

 

 

/liat ke atas/ KYAAAAA /teriak bareng Seohyun/ IGE MWOYA?! TTT,TTT jelek banget huhuhu.. sebenernya yang ada di bayanganku bukan begini, dan hyohyuk moment itu cuman tiba-tiba terpikirkan aja aku juga ga tau kenapa.. mungkin karena kemaren aku habis nonton mv Hyuna-Red padahal mataku ternodai di situ ;-; dan di sini juga ga ada Minho. Maaf ya, soalnya Seokyu kan lagi pendekatan kalo ada Minho malah ganggu kan kekeke xD nanti Minho juga ganggu kok, tapi lain waktu okeee.

 

Sebenernya aku minder dengan keahlian bahasaku makanya aku lama ngepostnya tapi karena debutnya Red Velvet aku jadi mendapat semangat baru. Lalalalalala lalalala Happiness!😀

 

Kok aku jadi curhat.. yaudah deh selamat bertemu di part tiga dan maaf aku baru memproses kerangkanya, sama sekali belum mulai ngetik. Jadi kalo lama tolong dimaklumi. Tahun ini aku ujian juga soalnya. Kalian tolong doain semuanya sukses ya ^^ makasih dan selamat bertemu di lain waktu. JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK!

4 thoughts on “How to Goodbye 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s