3 Days—Past Memory

3Days1

 

Author : billachan

Genre: Romance

Casts: Seo Joohyun, Cho Kyuhyun, etc

Type: Short Chapter

Rate: PG 17

Disclaimer: ff ini murni dari otak author, jika ada yang sama itu hanya kebetulan

.

.

.

.

.

.

.

Happy reading ^^

.

.

.

.

.

AUTHOR POV

 

Seohyun bersandar di dashboard tempat tidurnya, tangan ada di atas kedua lututnya yang tertekuk. Pandangannya kosong dan hampa, tidak ada tanda-tanda kehidupan yang terpancar dari sana. Lama kelamaan ingatannya berkelana ke masa lalu.

Seo Joohyun, dirinya hanya anak seorang CEO produk pasta gigi terlaris di Korea yang hidupnya kekurangan kasih sayang dan perhatian. Saat itu teman sekolahnya, Kwon Yuri menceritakan ia memiliki kenalan kantor yang kata kebanyakan orang tampan tapi menurutnya memiliki wajah seperti staff pada umumnya. Entah ada setan dari mana yang membuat Seohyun saat itu langsung menyambar tangan Yuri dan memintanya untuk dikenalkan dengan orang itu.

“Kenalkan aku padanya, Yul,” pinta Seohyun kala itu.

“O..oh. tapi kenapa?” tanya Yuri seakan tak percaya.

“Aku kesepian.”

Siangnya, Seohyun merasa agak menyesal. Orang yang dikatakan Yuri itu memang memiliki wajah biasa, meskipun pandangan matanya tajam dan teduh di saat yang bersamaan. Cho Kyuhyun namanya. Lelaki itu, orang pertama yang membuat Seohyun ragu untuk menyalami tangannya dalam 23 tahun masa hidupnya. Bukan karena wajahnya yang buruk, ia tampan. Tapi penampilannya sungguh tidak tampan. Sepatu buluk, celana robek di bagian lutut, kemeja kusam, rambut mirip sarang burung, dan jangan lupakan tubuhnya yang sama sekali tidak berbau. Biasanya pegawai kantoran berbau menyengat, tapi ini? Uh, sebelumnya Yuri sudah membisikinya kalau lelaki ini –Kyuhyun— berkemungkinan akan dipecat seminggu lagi dari tempat kerjanya. Karena alasan yang bermacam-macam, seperti perilakunya, cara berpakaiannya yang semrawut, juga cara kerjanya yang lebih seperti detektif. Seharusnya Seohyun tidak mengabaikan bisikan Yuri.

“Emm.. Seo Joohyun,” kata pertama yang dikeluarkannya kala itu menimbulkan senyum di bibir Kyuhyun, yang mana membuat hati Seohyun tiba-tiba berdebar kencang.

 

“Kyu..” mata Seohyun beralih ke sisi kanan ranjangnya, mendapati bagian itu terasa dingin dan hampa. Tidak seperti biasanya.

Berbulan-bulan setelah masa jadiannya dengan Kyuhyun, lelaki itu mulai berubah. Seohyun-lah yang merubahnya menjadi pribadi yang lebih tertata. Kyuhyun juga merubah kehidupan Seohyun, menjadi lebih berantakan. Ia merubah gadis polos itu menjadi wanitanya, yang menemaninya sepanjang malam, tempat ia melepas penat setelah seharian bekerja. Singkat cerita, seminggu setelah Seohyun berkenalan dengan Kyuhyun, lelaki itu benar-benar dipecat dan berubah profesi sebagai detektif. Dan 4 bulan kemudian, mereka resmi menjadi sepasang kekasih.

Seohyun merebahkan dirinya di ranjang, menatap langit-langit kamar yang pencahayaannya sedikit meredup. Ia ingat pertama kali tidur bersama Kyuhyun, di sini. Tepat di tempat yang sedang ditempatinya ini. Tapi anehnya Seohyun tidak merasakan apa yang seharusnya dirasakannya. Yang menggantung di pikirannya hanya masalah orang tuanya, kedua makhluk yang selalu sibuk dan bertemu hanya untuk bertengkar. Seohyun hanya memikirkan tentang emosinya yang meluap-luap, dan tempat yang tepat untuk melampiaskannya. Ia membutuhkan Kyuhyun, dan Kyuhyun juga membutuhkannya. Menurut Seohyun itu sudah lebih dari cukup. Tapi, apa ini yang dinamakan cinta?

“Heol..” Seohyun mendesah keras, entah untuk apa. Ditatapnya bulan purnama yang cahayanya menelusup ke sela-sela korden kamarnya.

Seohyun tidak pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya. Tapi jika ini bukan cinta lalu apa? Mengapa ia merasa begitu terluka ketika Kyuhyun meninggalkannya?

“Aku mencintainya,” gumamnya tanpa sadar, “Dialah yang tidak.”

Senyum miris yang terukir di wajah pucat Seohyun mengantarnya ke alam mimpi, bersamaan dengan air matanya yang mulai mengering.

Rasanya Seohyun tidak punya apa-apa lagi saat ini. Yuri? Oh, sahabatnya juga punya kehidupannya sendiri. Dulu, Seohyun adalah anak semata wayang yang sangat dijunjung tinggi oleh orang tuanya. Berbagai sanjungan, pujian, juga decakan kagum sudah dilayangkan kepadanya sejak umurnya masih belia. Hidupnya terasa sangat sempurna, sampai malapetaka datang.

Ayahnya, Seo Inguk membeli saham dari orang yang salah. Dia yang seharusnya untung malah mendapat kerugian besar. Kerugian itu membuat atmosfir di rumah Seohyun menjadi lain. Ibunya depresi berat, juga ayahnya yang jadi sangat tempramen terhadap hal-hal kecil. Puncak dari masalah datang ketika ayah Seohyun menjual rumah mertuanya sendiri, yang tentu saja membuat ibu Seohyun marah besar dan akhirnya memilih untuk berpisah. Sedangkan Seohyun, ia memilih untuk hidup sendiri dengan sisa-sisa uang tabungannya yang sudah sempat dikeruk ayahnya sebelumnya. Lelaki itu, sempat menjadi lelaki terdekat yang Seohyun punya. Hampir semua sifat ayahnya Seohyun hafal, kecuali sifatnya sesudah kejadian itu, sifatnya yang begitu kelam dan mengerikan.

“Halo? Chunyeong?”

“Ya, Seo In Guk. Ada apa menelpon?”

“Bukan aku yang membunuh istriku. Kau pikir aku tega membunuh anak presiden sepertinya?”

“Lalu siapa? Memang apa hubungannya anak presiden dengan pembunuhan? Dia istrimu, dan jelas-jelas kau yang ada di—“

“Putriku yang membunuhnya.”

“Apa?!”

“Chunyeong, putriku yang membunuh istriku. Bukan aku.” mendadak suaranya berubah parau.

“Jangan coba-coba, Inguk.”

“Aku melihatnya. Kumohon segeralah tangkap dia. Namanya Seo Joohyun, dia tinggal di kompleks Gwanghwamun.”

“Tapi..”

“Dialah pelakunya, Yeong. Tangkap dia. Sebelum kejahatannya semakin menyebar, tolong tangkaplah dia. Hukum dia sesukamu,” , “Dan setelah kau berhasil menangkapnya, kabari aku.”

Inguk memutus sambungan teleponnya, menaruh benda persegi panjang itu ke atas meja. Ia menatap beberapa karung putih di belakangnya yang berisi uang –hasil mengeruk dari mayat istrinya— dengan tatapan senang.

“Setelah anakku mati, aku akan bunuh diri.”

Senyum semakin mengembang di wajah tuanya yang keriput. Sebentar lagi hutangnya lunas, dan ia bisa pergi dengan tenang. Bertemu lagi dengan istri dan anaknya di surga.

 

***

 

“Tidak bisakah kita berhentikan operasi ini?”

BRAK!

Kyuhyun, yang tadi mengajukan pendapatnya begitu terkejut saat lelaki didepannya tiba-tiba menggebrak meja.

“Apa yang kau harapkan?” tanya lelaki itu dingin sambil memasukkan isi peluru ke pistolnya.

“Kita tidak memiliki bukti yang jelas, Hyung,” Kyuhyun berpendapat. “Changmin hyung, apa ayahmu benar-benar tidak menarik ucapannya?”

Mendengar nama ayahnya disebut membuat lelaki bernama Changmin itu naik pitam. Dibantingnya pistol kesayangannya itu ke atas meja. “Jadi, menurutmu ayahku salah tangkap? Ayahku, Shim Chunyeong sang detektif legendaris di negeri ini salah tangkap?!”

“Berhenti membangkannya!” Kyuhyun mengatur nafasnya karena baru saja berteriak sekeras yang ia bisa. Ini adalah kali kedua Kyuhyun berteriak pada Changmin, bahkan setelah lama mengenal lelaki itu.

“Apa menurutmu, seorang perempuan berumur 23 tahun yang tidak memiliki apa-apa tega membunuh ibunya sendiri?”

“Justru karena tidak memiliki apa-apa ia membunuhnya,” Changmin beranjak, membawa wine yang disimpannya di laci konter ke atas meja. “Untuk merampok,” seringainya.

Kyuhyun terdiam. Tiga perempat batinnya mengatakan ini salah, semuanya salah. Seohyun yang dikenalnya adalah perempuan manis yang sama sekali tidak memiliki sisi jahat dalam dirinya. Senyumnya, tawanya, caranya merangkai bunga.. semuanya manis. Dan membayangkannya, membuat Kyuhyun kembali rindu dengan sosok itu.

Suara kucuran air dari botol wine yang mengalir ke gelas kristal seakan menjadi backsound di ruangan itu.

“Kenapa terdiam, Kyu?” Changmin menatap cemas Kyuhyun yang terlihat melamun. “Jangan bilang karena dia perempuan, kau jadi menyukainya,” terkikik geli, Changmin meminum wine dari gelasnya dalam sekali teguk.

Sementara itu Kyuhyun masih terdiam. Jemarinya perlahan-lahan menelusup ke antara celah-celah gelas winenya. Ragu antara ingin meminum cairan beralkohol itu atau tidak. Jika Seohyun ada di sini, Kyuhyun pasti sudah diamuk.

“Lebih dari itu,” gumam Kyuhyun dengan tatapan menerawang jauh, seolah kalimat itu keluar tanpa sengaja. Mengabaikan Changmin yang sudah mulai menggumam tidak jelas, Kyuhyun menegak gelas pertama winenya dengan cepat.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

 

Yihaaaa~~ aku datang lagi😀 gimana? Aku apdetnya cepat kan? lebih cepat dari kekuatan anginnya Sehun kan? Yessshh aku senang sudah bisa menyelesaikan part pertamanya kekeke (apaan, orang hasilnya pendek banget begini -,-) heum sebenernya sih aku udah mikirin lanjutannya. Tapi pas di tengah-tengah aku bikin, menurutku lebih bagus kalo aku buat partnya per hari aja😀 dan ini sudah termasuk hari pertama ya. Gaada skmnya gapapa ya? Insya allah next part aku bikin jadi lebih manis dan lebih manis lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s