3 Days—What Now

3Days1

Author : billachan

Genre: Romance

Casts: Seo Joohyun, Cho Kyuhyun, etc

Type: Short Chapter

Rate: PG 17

Disclaimer: ff ini murni dari otak author, jika ada yang sama itu hanya kebetulan

.

.

.

.

.

.

.

Happy reading ^^

.

.

.

.

.

AUTHOR POV

 

Gerakannya terlalu menuntut dan cepat, membuat suara decit ranjang lebih memekakkan telinga daripada biasanya.

 

Lenguhan demi lenguhan yang dilontarkan keduanya semakin mengudara, bersahut-sahutan kemudian hilang bersama terpaan angin tak kasat mata. Menyisakan nafsu yang mengikat keduanya semakin erat. Semakin panas.

 

“Aku.. mencintaimu..” di sela-sela nafasnya yang terengah, Seohyun berucap.

 

Lama dirinya menunggu balasan tapi Kyuhyun tak kunjung memberikannya. Sampai mereka berdua ambruk dengan sisa-sisa tenaga yang semakin menipis, Kyuhyun masih belum mengatakannya. Seohyun tetap menunggu.

 

Ia menatap mata elang itu dengan kilatan sendu, seolah meminta sesuatu tapi Kyuhyun bukan orang yang peka. Kyuhyun hanya tersenyum, kemudian berbalik memunggunginya. Seolah berkata semuanya sudah selesai, malam panjang yang mereka berdua lalui untuk bercinta sudah usai.

 

Tanpa sadar Seohyun menahan nafas. Selimut yang menutupi tubuh polosnya ia bawa sampai ke bawah mata. Kenapa rasanya…

 

Seohyun menoleh sejenak pada Kyuhyun. Lelaki itu terlihat sedang memikul beban berat. Seharusnya ia faham, itu satu-satunya alasan Kyuhyun tidak membalas ucapannya.

 

Mungkin Kyuhyun lupa.

 

Jika sudah begini, hanya menunggu yang bisa Seohyun lakukan.

 

Malam itu, dengan suhu yang menggigilkan kulit dan perasaan kalut di ambang batas, Seohyun menyusul Kyuhyun ke alam mimpi.

 

 

***

 

 

KLAK

 

Seohyun langsung membulatkan matanya begitu mendengar suara pintu terbuka. Pintu flatnya sendiri, jadi bagaimana bisa ia tidak waspada? Reflek, Seohyun langsung melompat bangun dari tempat tidurnya dan berlari menuju sumber suara.

 

“Oppa!” teriaknya kencang, melihat Kyuhyun sudah berpakaian lengkap seperti tadi malam saat ia datang. Sebelum lelaki itu memojokkan Seohyun ke dinding, mencuim tengkuknya penuh nafsu, dan kemudian… sudahlah.

 

“Mau ke mana?” tanya Seohyun sambil melilitkan selimut di sofa yang tidak jauh darinya ke tubuhnya. Terlalu panik memang membuat kita melupakan sesuatu kadang-kadang. Bahkan sesuatu yang sangat penting seperti berpakaian.

 

“Mau pulang,” jawab Kyuhyun minim ekspresi.

 

“Tanpa mengucapkan salam perpisahan pada kekasihmu?”

 

 

Seohyun mendekat, memainkan tangannya di kedua bahu Kyuhyun, kemudian turun ke dada dan perutnya. Lelaki itu memang tidak merespon, tapi air mukanya sangat menunjukkan kalau ia kepanasan.

 

“Cukup.”

 

Seohyun terpaku ketika tangannya yang asik memainkan kancing kemeja Kyuhyun dipegang erat oleh lelaki itu. Sedikit lagi Kyuhyun mengencangkan cengkeramannya, mungkin tangan Seohyun akan remuk.

 

“A-apa?” tanyanya setengah tergagap, takut.

 

“Kita akhiri sampai di sini saja.”

 

“A-APA?”

 

“Kita putus.”

 

Seohyun terdiam. Mendadak linangan bening membasahi matanya yang bulat. Sekeras mungkin ia menahan air matanya untuk lolos, sekeras Kyuhyun menggenggam kedua tangannya.

 

“K..e..n..a..p..a?” pertanyaan itu lebih seperti ejaan di telinga Kyuhyun.

 

“Pokoknya kita akhiri saja,” jawab Kyuhyun lalu melepas tangan Seohyun dengan lembut.

 

“Tidak, jangan pergi, oppa,” Seohyun menarik apapun yang bisa ia tarik dari Kyuhyun sebelum lelaki itu benar-benar pergi.

 

“Oppa, kajima,” Seohyun mulai terisak.

 

“Oppa, kajima, oppa. Malhae,” Seohyun menahan pintu flatnya yang setengah tertutup. “Kita bisa menyelesaikannya, kan?” tanya Seohyun dengan suara parau.

 

“Tidak, Joo. Tidak ada yang bisa diselesaikan,” jawab Kyuhyun, menutup pintu flat Seohyun pelan-pelan. Meninggalkan Seohyun yang terus memohon sambil terisak agar Kyuhyun tetap di tempat sembari menjelaskan apa maunya.

 

“Jangan pernah bertanya.”

 

Setelah berkata seperti itu, pintu flat tertutup. Menghilangkan sosok Kyuhyun bersama dengan sinar matahari pagi yang semakin menyengat. Seohyun rasanya seperti mati rasa. Ia bahkan tidak bisa merasakan tulangnya sendiri yang akhirnya membuatnya jatuh merosot ke lantai dengan cukup keras. Setelah itu air mata, isakan, dan rasa sesak langsung memenuhi flatnya yang sepi. Seohyun benar-benar merasa kaget dan patah hati di saat yang sama. Mungkin jika ia bangun tiba-tiba, ia bisa muntah.

 

 

***

 

 

Kyuhyun berjalan keluar dari pintu utama gedung apartemen yang mungil itu, tempat Seohyun –mantan kekasihnya—tinggal dengan langkah gontai.

 

 

Aku sudah putus?

 

 

Seperti mimpi, Kyuhyun belum bisa menerima status yang disandangnya sekarang dengan lapang dada. Masih ada ganjalan yang begitu besar yang mengatakan bahwa meskipun ini terasa seperti mimpi, bukan mimpi indah yang sedang dialaminya. Melainkan mimpi buruk. Mimpi terburuk dalam hidupnya.

 

Melewati jalanan yang becek karena hujan tadi malam, Kyuhyun tetap gentar. Ia menepikan diri ke sudut gang kecil yang kumuh dan tak tertata, kemudian mengeluarkan walkie-talkie dari saku celana jeans-nya.

 

Kyuhyun memencet tombol di sisi kiri alat itu, kemudian berucap, “Hyung, aku sudah melakukannya.”

 

Seketika air mukanya berubah setelah mendengar perkataan orang di seberang teleponnya, yang tadinya pucat, menjadi semakin pucat seperti kertas.

 

 

“Baik. Kau punya waktu tiga hari untuk melenyapkannya.”

 

 

Kyuhyun mendadak memutuskan sambungan, membuang benda itu ke dalam kubangan air. Setelah itu tubuhnya jatuh dengan lutut sebagai tumpuan, tanda ia tak mampu lagi untuk berdiri. Perlahan cairan bening meleleh dari kedua bola mata yang selalu terlihat tajam namun hangat itu. Bukan hanya satu-dua, lebih dari itu.

 

Mendadak pikirannya kacau. Perasaan dan logikanya bercampur menjadi satu, membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Kyuhyun membanting tempat sampah yang ada di dekatnya ke dinding, sampai isinya tumbah berceceran dan bau busuk menguar ke segala arah.

 

 

Sekarang harus bagaimana?

 

 

Sebelum menjadi seorang detektif, Kyuhyun adalah seorang lelaki. Ia tahu itu, sangat tahu. Tapi…

 

 

Kenapa aku? Bagaimana bisa aku melenyapkan wanita yang kucintai hanya dalam 3 hari?

 

 

Batin Kyuhyun berteriak. Ia begitu kacau sekarang. Tak jauh berbeda dengan Seohyun yang masih duduk bersandar di pintu flatnya dengan tangis yang mulai mereda.

.

.

.

.

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s