Brother’s Problem (Chapter 3)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Author : billachan

Genre: Romance, AU!Incest, sad

Casts: Seo Joohyun, Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Choi Minho

Type: Chapter

Rate: PG 15

Disclaimer: ff ini murni dari otak author, jika ada yang sama itu hanya kebetulan

 

Credit ZHYAGAEM06 AT SEOEXO ART AND FANFIC, thanks for the awesome poster ^^

 

Happy new year, wires! Oke ini mungkin telat karena maaf, ya aku kemaren 2 hari pergi terus jadi ga bisa pegang laptop huhu T,T

.

.

.

.

.

.

.

Happy reading ^^

.

.

.

.

.

SEOHYUN POV

“Kau menakjubkan, Hyun.”

Aku menoleh, menemukan Seulgi sedang menatapku dengan wajah penuh kekaguman.

“Apanya?” tanyaku merasa tidak ada yang aneh dariku.

Seulgi mengambil duduk di sebelahku, menunjuk leherku yang dibalut syal merah dengan telunjuknya. “Itu.”

Aku melirik syalku dan dia secara bergantian. “Apa yang salah menggunakan syal dimusim semi?”

“Dear, kau masih bertanya? Apa di lehermu tidak mengalir keringat sedikitpun?”

Mengalir, banyak sekali sampai rasanya aku ingin melepas bajuku di sini. Di kelas ini, sekarang juga. “Aku sedang tidak enak badan,” jawabku asal.

Sebenarnya aku terpaksa memakai syal ini karena ulah Changmin kemarin siang. Bahkan sampai tadi pagi sebelum berangkat sekolah bekasnya masih terlihat jelas di leherku walaupun sebelum tidur aku sudah mengoleskan krim penghalus bekas luka. Changmin harus benar-benar dihukum! Aku benci padanya tapi aku lebih benci pada diriku sendiri yang selalu membiarkannya menyentuhku. Karena aku tau dia tidak pernah lebih jauh dari itu, dan karena Changmin memang membutuhkanku untuk pelampiasannya.

“Sebenarnya tidak terlalu aneh, kok. Seperti fashion.” Wendy, anak blasteran Kanada-Korea tiba-tiba muncul di sebelahku.

“Hei, Seung Wan-a kenapa sendirian? Mana yang lain?” tanya Seulgi dengan mulut penuh. Kelas sedang kosong dan biasanya kami memanfaatkan ini untuk makan atau mengobrol, walaupun aku lebih memilih belajar.

“Ck, nappeun saekki-ya (naughty bastard). Sudah kubilang jangan memanggilku dengan nama itu. Kedengarannya jelek sekali,” sungut Wendy.

Seulgi tertawa, dan aku otomatis ikut tertawa. “Oke, oke. Mana yang lain, Wendy?” dia mengulangi pertanyaannya.

Wendy menggerakkan dagunya ke kanan, menunjukkan Irene dan Joy yang sedang mengerjakan sesuatu di belakang sambil tertawa, mereka terlihat kenyanangkan.

“Seo, ayo ke sana,” ajak Seulgi sambil menarik pergelangan tanganku.

Sekarang, aku punya banyak teman.

 

***

 

Bel istirahat berbunyi.

Aku merasa lebih senang dari biasanya karena sebentar lagi akan ada pertandingan basket dan Changmin, yang merupakan asisten pembimbing sangat sibuk menyiapkan segalanya. Jadi siang ini aku tidak makan bersamanya. Aku bebas!

Kututup lokerku dan berbalik. Sosok seorang lelaki yang tidak asing langsung menyambut pengelihatanku.

“Hei, Kyuhyun,” sapaku.

“Kau lagi,” jawabnya membuatku tertawa kecil. Aku tidak pernah merencanakan pertemuan di depan loker seperti ini tapi kami selalu bertemu.

“Eum..” malu-malu aku maju selangkah mendekati Kyuhyun. “Terima kasih untuk yang kemarin,” aku mulai berbasa-basi lagi.

Kyuhyun mengindikkan bahunya, “Kau sudah mengatakannya berkali-kali.”

Aku tertawa kecil. Kami mulai berjalan meninggalkan loker. “Oke, lupakan. Aku hanya merasa kau sangat berjasa sampai ucapan terima kasih saja sepertinya belum cukup.”

“Jika aku meminta yang lain, kau pasti tak akan mengabulkannya,” katanya.

Dahiku berkerut bingung. “Memang apa yang kau minta?”

“Kenapa hari ini kau memakai syal?”

Aku memandang Kyuhyun dengan tatapan aneh. Kenapa dia cepat sekali mengganti topik, dari ucapan terima kasih ke syal? Aku merasa ada yang aneh di sini tapi lancang bagiku untuk menanyakan kenapa dan apa sebabnya.

“Aku sedang tidak enak badan,” aku mulai berbohong lagi, bahkan di depannya.

Tiba-tiba Kyuhyun melirikku seolah tidak percaya, membuatku menelan ludah. Apa aku tidak terlihat seperti orang yang sedang sakit?

“Kau mengingatkanku pada ibuku,” gumamnya sambil menatap lurus ke depan, seolah menerawang.

“Apa ibumu juga memakai syal saat tidak enak badan?” tanyaku. Aku mulai menyukai alur percakapan ini daripada ucapan-terima-kasih-basa-basi yang tadi kubuat.

Kyuhyun mengangguk dan itu membuatku tidak percaya. “Bahkan saat musim semi?” Dia mengangguk lagi. Selama ini kukira hanya orang aneh yang memakai syal di musim semi.

“Benar-benar kebetulan,” gumamku.

“Hm.”

“Kyuhyun?” dia menatapku, menyuruhku lanjut berbicara. “Memangnya apa yang ingin kau minta dariku selain ucapan terima kasih?” tanyaku lagi karena jujur saja, aku benar-benar penasaran.

Kyuhyun berhenti berjalan. Dia menghadapku, kemudian mensejajarkan tinggi badannya denganku. “Kau benar-benar ingin tahu?” aku mengangguk. Ada selang beberapa saat sebelum dia berbisik… “Cium aku,” tepat di depan telingaku. Dia berhasil membuatku lupa caranya bernafas.

“Apa?!” aku berkata hampir memekik. Kutebak sekarang wajahku sudah semerah tomat.

Perlahan kututup mataku ketika dia mulai mendekatkan wajahnya padaku. Sedikit lagi, sebentar lagi, kurasakan jantungku berdebar keras karenanya. Namun sudah beberapa detik menunggu tetap tidak ada yang terjadi padaku.

Kubuka mataku, sedikit membelalak setelah aku tidak menemukan Kyuhyun di depan, samping, maupun di belakangku. “Kau mempermainkanku!” marahku. Kulihat bayangan orang yang bersembunyi di balik tangga dan langsung kudekati. Di sana kulihat Kyuhyun sedang meringkuk sambil menyembunyikan wajahnya dariku.

Kuhadiahkan dia pukulan yang bertubi-tubi. “Dasar menyabalkan!” hardikku.

“Hei, ampun. Sakit sekali kau ini. Aw!”

Aku tak peduli.

“Hei, apa kau benar-benar ingin kucium?”

 

***

 

Siang ini pertama kalinya diadakan ekskul menyanyi di ruang musik. Aku memasuki ruangan bersama Seulgi dan Wendy yang sama-sama lolos seleksi. Kuedarkan kepalaku ke seluruh penjuru ruangan dan menemukan sebuah piano klasik berwarna hitam mengkilat yang sangat cantik di bagian sudut. Dia seperti menarikku diam-diam dan jika di kelas ini tidak ada orang, aku pasti sudah duduk di kursi piano.

“Selamat siang, anak-anak.”

Kegaduhan langsung memudar setelah Guru Kim memasuki kelas. Kami duduk di kursi plastik yang disediakan. Saat aku menoleh ke sisi kanan tanpa sengaja aku bertatapan dengan Kyuhyun, yang menatapku balik. Anak itu sedikit menyabalkan tadi tapi aku menemukan diriku melambaikan tangan sambil tersenyum padanya. Lalu Kyuhyun membalasku.

“Perkenalkan saya Kim Yejin, dan di sebelah saya ini kakak kelas kalian, Choi Minho,” hampir semua anak perempuan di kelas ribut setelah nama Minho disebutkan. Minho oppa memang yang paling populer di Chang-line, dan sepertinya paling tampan juga.

“Baik, fokus pada saya dulu lalu setelahnya kalian bisa bersenang-senang dengan kakak kelas kalian yang tampan ini.” aku tertawa. Sebenarnya Minho tidak terlalu bisa bernyanyi, menurutku. Entah bagaimana ceritanya dia bisa jadi asisten pembimbing. Yang jelas aku bangga padanya.

“Di pertemuan pertama kalian ini, aku ingin kalian berkelompok 3 orang,” kata Guru Yejin.

“Silahkan Minho yang memilih. Sembarang saja, nak.”

Kelas langsung jadi benar-benar diam. Semua orang tegang, termasuk aku. Aku ingin sekali sekelompok dengan—

“Pertama, Seo Joohyun,” suara rendah Minho menggema membuatku menahan nafas.

“Kau sekelompok dengan…”

Please, please, Minho oppaku yang baik tolong selamatkan aku. Kupandang matanya penuh pengharapan.

“Seo Joohyun sekelompok dengan Kang Seulgi dan Cho Kyuhyun.”

Aku tersenyum. Menatap Seulgi di sebelahku dan Kyuhyun yang tidak jauh dariku bergantian. Sejak tadi aku berharap bisa sekelompok dengan Seulgi, tapi kenapa rasanya aku senang juga dikelompokkan bersama Kyuhyun?

 

***

 

“Bagaimana sekolah hari ini?”

Aku mengoleskan krim penghalus luka lalu menatap Changmin datar. “Menyenangkan.”

“Kau pasti senang tidak ada aku, kan?”

Ya. sangat! Aku ingin meneriakkan itu di depan wajahnya tapi aku tak bisa. Jadi aku diam saja karena menurutku itu adalah pertanyaan yang sarkastik.

Kami baru saja sampai rumah beberapa menit yang lalu dan aku langsung masuk kamar untuk menghindarinya, tapi dia mengikutiku sampai ke depan kamar. Jadi kubiarkan saja dia berdiri di sana. Toh, sebentar lagi orang tuaku pulang. Karena aku ikut ekskul dan dia sedang sibuk, kami jadi pulang dua jam lebih lama dari biasanya.

“Hei, hentikan,” suara Changmin terdengar membuatku menoleh, seolah bertanya apa yang harus dihentikan. Kalau yang dimaksudnya adalah hubunganku dengannya yang dipenuhi ketidak jelasan dan jalan buntu, aku akan dengan senang hati mengiyakan.

“Kau tidak perlu memakai krim penghalus luka. Lehermu terlihat seksi dengan hickey buatanku. Melihatnya memudar membuatku ingin menggigitmu lagi.”

Aku mau menangis.

Kutelan ludahku sarat. Walaupun dia tidak pernah melakukan lebih, aku tetap tidak menyukai perlakuannya padaku. Changmin memang memiliki masa yang berat dalam hidupnya karena tekanan orang tuaku dan sekolah yang mengharuskannya selalu menjadi nomor satu. Walaupun dia terlihat baik-baik saja di depan semua orang, dia menggila di hadapanku. Changmin menggunakanku untuk melampiaskan amarahnya, dan aku membiarkannya karena kasihan. Aku tidak bodoh, kan?

“Aku tidak bisa terus memakai syal ke sekolah,” gumamku takut.

“Kalau begitu tidak usah pakai,” kandasnya dengan nada menggoda.

“Lebih baik kau pergi dari kamarku, oppa,” usirku. Aku tidak ingin dia melihatku marah karena dia akan lebih marah dariku dan malah aku yang akan mendapat masalah nantinya.

Changmin mengindikkan bahunya. “Jika itu yang kau mau.”

“O-oppa,” kupasang ekspresi paling imutku padanya “Aku akan mengadakan kerja kelompok besok jadi kau tidak perlu menjemputku.”

“Dengan siapa?”

“Perempuan dan laki-laki,” jawabku menggumam. Aku sudah memiliki perasaan dia tidak akan mengijinkanku. Tapi aku tetap mencoba dengan memberikannya wajah imutku –yang sebenarnya membuatku ingin muntah juga—.

“Siapa?”

“Seulgi dan Kyuhyun.”

“Si jutek dan laki-laki berengsek itu?”

“Seulgi tidak jutek, oppa. Kyuhyun juga bukan lelaki berengsek, dia membantuku,” jawabku dengan suara yang otomatis meninggi.

Rahangnya mengeras dan aku menelan ludah. “Suruh mereka ke rumah saja.”

Kaulah satu-satunya lelaki berengsek!

“Tapi aku akan mengerjakannya di rumah Seulgi. Dia perempuan,” gumamku seperti cicitan tikus.

“Kau teman perempuannya, ajak dia ke rumah.”

Kutaruh krim penghalus luka dengan sedikit dibanting. “Aku akan bilang pada ibu kau sudah keterlaluan.”

“Jika aku bilang pada ibu temanmu bukan perempuan baik-baik?”

Kuhela nafasku. Aku kalah, dan Changmin selalu mendapat apa yang diinginkannya. Kulihat dia tersenyum miring dari ekor mataku. I hate you, naughty bastard.

“Baiklah, aku akan mengajak mereka ke rumah.”

 

***

 

Aku sudah mengabari Seulgi dan Kyuhyun jika sebaiknya mereka mengerjakan tugas di rumahku saja karena aku tidak boleh keluar. Mereka menyetujuinya, Kyuhyun bilang asalkan tugasnya selesai tidak masalah. Tapi setelah mendengar alasanku, Seulgi tertawa dan ini menyebabkanku terlihat seperti anak rumahan yang kuper. Untungnya Kyuhyun diam saja.

Jadi setelah pulang sekolah, kami diantar supirnya Seulgi –dengan Changmin membuntuti di belakang— menuju rumahku. Hampir sepanjang perjalanan aku terus ribut memberi tuntunan pada sang supir karena rumahku yang lumayan jauh. Aku harus melaknat Changmin setelah ini.

Setelah sampai kubuka kunci rumah lalu masuk. “Selamat datang di rumahku,” sambutku dan Changmin melewatiku begitu saja.

“Oppa—“

“Jangan berisik, ya,” dia berkata begitu kemudian naik ke lantai atas dengan kaki yang dihentakkan. Benar-benar tidak tahu sopan santun.

“Bukankah itu Changmin sunbae?” tanya Kyuhyun seolah heran dengan sikapnya.

“Ya, dia kakakku,” jawabku. Sebenarnya aku sedikit enggan mengatakan ini.

“Apakah dia selalu seperti ini?” sekarang Seulgi yang bertanya. Sepertinya semua orang mempertanyakan sikap kakakku yang menyebalkan.

Aku duduk di karpet berbulu merah yang ada di ruang tamu diikuti keduanya. “Tidak juga. Mungkin dia depresi karena sebentar lagi ujian kelulusan. Dia semakin menyebalkan belakangan ini,” jawabku asal. Bagiku tidak mungkin untuk mengatakan yang sebenarnya pada mereka walaupun aku ingin.

“Emm.. baiklah, apa ada yang sudah punya usul?” tanyaku mengalihkan topik.

“Bagaimana jika kita memakai tema percintaan?”

Aku menoleh pada Seulgi dengan senyum menggoda yang langsung dibalas gelengan ringan. “Tidak, bukan karena lagu tema ini sedang menjadi tren. Tapi karena.. emm..”

“Karena kau sedang mengalaminya,” ujarku menambahkan sambil terkikik.

“Tidak, sebenarnya aku sudah menyiapkan beberapa baris untuk dinyanyikan,” ucapnya.

“Serius? Kalau begitu nyanyikan,” ucapkuku antusias. Karena kemarin aku langsung pulang setelah maju ke panggung, aku jadi belum melihat Seulgi saat menyanyi.

Dia mulai mengambil nafas untuk mempersiapkan diri. Matanya menatap pintu rumahku yang setengah terbuka seolah menerawang.

 

There are so many things I can’t say
You never hear it even once
Someone that is shown in front of me
My love, it’s not that kind of love

 

Aku terpaku, fokus pada Seulgi yang mulai membuka matanya pertahan. Kuberikan dia tepuk tangan yang meriah sebagai pujian untuk suaranya.

“Kau benar-benar keren, Sseul,” pujiku. Suaranya mirip Kim Taeyeon.

“Sepertinya kita bisa memakai ini. ah, Kyuhyun, apa kau punya usul?” kutanya Kyuhyun di sampingku yang entah sedang menulis apa di bukunya. Kuharap jawabannya ya, karena aku suka bagaimana caranya memejamkan mata, menarik nafas di sela irama, dan suaranya ketika bernyanyi. Mungkin aku juga sedikit menyukainya.

Kulihat Kyuhyun menaruh tangan di dagu, mata melihat ke kanan atas seolah sedang memikirkan sesuatu. “Sayangnya, aku tidak punya.”

Hatiku jatuh ke karpet.

“Sebentar, kubuatkan minum dulu.” aku berdiri.

“Ck, tidak usah repot-repot,” sahut Kyuhyun dan Seulgi juga menggerutu. Tapi tentu saja aku merasa tidak enak.

Kulihat Changmin yang menuruni tangga kemudian membuka kulkas dan langsung meminum air dingin dari wadahnya. Untung saja letak dapur tertutup dari ruang tamu, jadi hanya aku yang melihatnya.

“Oppa, beri salam pada teman-temanku,” bisikku sembari mengambil tiga gelas kaca berukuran sedang dari rak.

“Lalu kau akan mendapat hukuman?”

Aku menelan ludah. “Setidaknya jadilah Seo Changmin yang ada di sekolah selama ada mereka,” aku menggumam sedikit takut. Changmin dikenal sebagai anak yang berbakat, ramah, dan pintar di sekolah, aku hanya tidak mau citranya rusak karena ini.

“Hei, adik kecil,” dia mendekatkan wajahnya padaku. Membuatku mundur dengan badan yang sedikit mengalirkan keringat. “Kau sudah mulai melawan rupanya. Nantikan hukumanmu.”

Changmin menyuntuh daguku lembut sambil tersenyum nakal sebelum pergi. Kudengar suaranya yang mengucapkan, “Kerjakan dengan baik,” sebelum dia menghilang di balik tangga. Namun nada suaranya sama sekali tidak bersahabat.

Aku menyelesaikan pembuatan jus jeruk dengan hentahan di sana-sini, kesal dengan sikap Changmin. Setelahnya aku muncul dari dapur dengan nampan, senyum otomatis terpasang di bibir. “Silahkan diminum.”

Seulgi mengambil segelas jus jeruk diikuti dengan Kyuhyun. “Aku jadi merasa benar-benar merepotkan,” gerutu Seulgi.

Aku hanya berkata aku biasa membuat ini untukku sendiri dan terkadang untuk Changmin juga. Yea, walaupun aku ingin menambahkan semacam racun atau obat tidur ke gelas Changmin (aku tidak mengatakan ini pada siapapun).

“Hm, jus yang enak,” puji Kyuhyun.

Tiba-tiba semburat merah muncul di wajahku yang membuatku tiba-tiba tersenyum. “Terima kasih,” kataku lalu meminum jus jeruk untuk menutupi wajahku yang memalukan.

Kami menghabiskan waktu 2 jam untuk membahas apa yang harus kami masukkan ke lagu dan bagaimana liriknya dibuat. Aku bahkan memainkan gitar sambil bernyanyi juga untuk menguji musiknya.

Dan akhirnya, aku mendengar Kyuhyun bernyanyi lagi.

.

.

.

.

“Tinggallah lebih lama lagi,” pintaku pada Seulgi yang mulai memasukkan barang-barang ke tasnya. Kyuhyun sudah pulang sejak beberapa waktu yang lalu karena harus mengejar bis.

“Kita besok bertemu lagi di sekolah, Seo. Jangan manja,” kata Seulgi sambil menarik zipper tasnya.

Kau tidak tahu.

Semakin lama kau pergi, semakin aku bisa menghindari Changmin tapi aku tidak bisa bilang begitu!

Jadi aku hanya memasang wajah memelas selama mengantarnya ke teras.

“Aku pergi, Seo,” pamitnya melambaikan tangan padaku.

Aku membalasnya dengan malas. “Kuharap kau kembali lagi.”

Seulgi terkikik, menutup mulutnya dengan tangan. “Kapan-kapan, ya.”

Di sore menjelang malam itu, mobil sedan hitam Seulgi yang dikemudikan seorang supir melaju meninggalkan rumahku. Rasanya sangat berat hanya untuk mengangkat tanganku untuk melambai padanya. Tapi aku tetap melakukannya sampai dia benar-benar hilang dari pandangan.

Setelah Seulgi benar-benar pergi, aku merasa aura gelap mulai melingkupiku.

Kubalikkan badan dan mata langsung bertemu dengan tatapannya yang seolah menginginkanku. Changmin, duduk di sofa dengan satu tangan menumpu kepalanya.

“Mereka sudah pergi?” gumamnya namun terdengar menyeramkan untukku.

Aku ingin pergi dan berlari darinya, tapi aku menemukan diriku mengangguk kecil sambil menggumamkan kata ‘ya’. Mulut kadang tidak sejalan dengan pikiran dan aku benci ini.

Kulitku merinding tiba-tiba ketika Changmin mulai berdiri dari sofa dan mendekatiku. Aku rasanya ingin berontak tapi Changmin lebih cepat menarik pergelangan tanganku ke pojok ruang tamu. Seperti biasa, dia selalu memojokkanku. Membuatku tidak bisa pergi kemanapun dan hanya melakukan apa yang diingankannya.

Aku menggigit bibir ketika Changmin memegang kerah seragamku, mendekatkan wajahnya padaku kemudian berbisik, “Kau tidak lupa hukumannya, kan?”

Aku memainkan tangan di ujung seragamku. Dalam waktu sekejap keringat dingin sudah membasahi tanganku. “O-oppa, apa aku melakukan kesalahan?” tanyaku dengan suara bergetar.

Changmin tersenyum, bukan senyum ramah yang biasa ditunjukkannya pada guru-guru di sekolah. Senyum ini lebih mengerikan sampai membuatku ingin memukulnya.

“Kau selalu melakukan kesalahan,” bisiknya, memainkan anak rambut yang lolos dari ikat rambutku dengan genit. Dia membuatku semakin gugup dan tertekan.

“Tapi oppa, aku—“

Changmin menangkup wajahku.

 

***

 

Seulgi mengaduk-aduk isi tasnya, lalu menumpahkannya ke kursi mobil gelisah.

“Ah, di mana dia?” desisnya.

“Ada apa, nona?” tanya sang supir membuat Seulgi menoleh.

Ahjhussi, ponselku ketinggalan.” Seulgi sekali lagi mencari ke dalam tasnya, jok mobil, dan laci dashboard, bahkan sampai ke kolong mobil tapi tetap tidak menemukan barang yang dicarinya. “Kita kembali ke rumah Seohyun.”

Mobil hitam Seulgi yang belum terlalu jauh dari rumah Seohyun berputar arah. Saat ini Seulgi menyandarkan badan sambil menggerakkan tangannya gelisah. Jika ponsel itu hilang, Seulgi tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya!

Setelah sampai di depan rumah Seohyun, Seulgi langsung memasuki rumah itu. Mulutnya terbuka ingin mengucap salam tapi diurungkannya melihat pintu rumah yang tidak terkunci. Air mukanya langsung cerah setelah melihat ponselnya tergeletak di atas meja dengan keadaan selamat.

“Untung kau di sini,” bisik Seulgi lalu memeluk dan mencium ponselnya seolah baru saja menemukan anaknya.

“Ah.. ah..”

Seulgi mendelik. Dia baru saja mendengar suara aneh dan decakan yang belum pernah didengarnya sebelumnya. Penasaran, dia ikuti dari mana suara itu berasal. Rasanya arwahnya hampir meninggalkan tubuhnya saat melihat apa yang terjadi di depannya.

Changmin, flower boy di sekolah sedang mencium adiknya sendiri dengan gerakan yang bernafsu dan Seohyun yang memegang kedua bahu Changmin agar tidak terlalu deat dengannya. Tapi orang salah paham bisa mengira Seohyun mendukung tindakan Changmin.

“Se-sesange.” Seulgi mendesis kecil hampir berteriak jika dia tidak ingat di mana dirinya sekarang.

Merasa ini waktu yang tidak boleh disia-siakan, Seulgi mengambil foto di depannya beberapa kali sebelum pergi.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

20 thoughts on “Brother’s Problem (Chapter 3)

  1. Annyeong bela🙂 ri yeon imnida. bela mau gabung gak di ff estafet?
    jadi ff nya dibuat oleh beberapa author🙂 nah nanti naya dapat kesempatan melanjutkan cerita dari author sebelumnya 1 kali. Setelah itu dilanjutkan oleh author yang lain🙂

      • semangat billa😀 kami semua menanti cerita darimu. DIbawa santai aja ya🙂 aku sangat menghargai orang yang mau menulis, seperti apapun hasilnya. Tapi aku yakin, tulisan billa pasti top markotop deh😄

      • Unni maaf aku lagi liburan habis UN, jadi pergi terus kalo malem padahal aku lebih mood nulisnya malem u,u jadi aku begadang sampe pagi buat nyelesain chapter ini ‘-‘)b kontrakku (kalo bisa disebut kontrak –“) belum kadalauarsa kan? Unni mah… baru pertama kali baca ff kalo bilang ffku top markotop wkwk..

      • well gakpapa kok bila. ini gak lewat deadline, kalaupun lewat juga gak papa. aku faham kita semua punya real life masing2. maaf ya, aku bacanya nanti dulu, soalnya masih sibuk hehe. nanti bacanya sekalian komentar. aku reblog dulu aja, ne?
        Semangat! Bila udah menyelesaikan ceritanya😀

      • Aku pikir deadlinenya berubah kalo author sebelumnya ngepost chapternya dia lebih cepat ‘-‘) iya gapapa unn.. makasih udah kasih aku kesempatan ikut event ini ^^ kalo ada event aku diajak lagi ya hehehe❤

      • iya emang deadline nya berubah kalau author sebelumnya ngepost lebih cepat. tapi bila tepat dihari kesepuluh nge post nya , jadi no prob😀 ah, apa aku yang salah ngitung ya? hehe, sudahlah, yang penting bila udah menyelesaikan bagiannya😀
        okeh, diajak kok😀

      • Oh ternya aku bener ya ‘-‘) haha aku tepat waktu sekali yak /digampar/ sip deh unni. Gimana udah nemu orang yg mau ngisi nomer 9?

      • nomer 9 gak dapet. mungkin posisi kesembilan mau aku jadiiin edisi special review aja😀 miris rasanya ngeliat author lain tidak menyertakan link ff sebelumnya. kasian reader, terombang-ambing😄 maka FF kali ini gak ada edisi chapter 1,2,3 dst. khawatir reader bakal bingung harus nyari link dimana😄

      • Gapapa special review ditengah tengah gitu unn? Aku punya temen yang nulis ff juga tapi bukan seokyu apa perlu aku tawarin? Oya aku ga menyertakan link xD aku ga bisa bikin hyperlink soalnya wkwk.. nanti aku edit deh. Makasih udah ngingetin😀

      • gakpapa say😀 lebih bagus special review nya diletakkan ditengah-tengah part sih menurut aku.😀 di special review nanti akan dijelaskan dengan terperinci. Bagaimana? jujur, aku juga cukup bingung mengambil keputusan hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s